Saturday, July 11, 2009

Bolehkah Bergabung dengan Partai Politik?

Kategori : Politik
________________________


Soal :


Apakah dengan kita tidak berpartisipasi dalam pemilu atau tidak mendukung partai politik (partai berlabel Islam) sama saja kita membiarkan partai atau orang-orang sekuler mengatur dan memimpin negara ini, yang tentunya menyebabkan mereka menerapkan undang-undang sekuler dan menolak dengan tegas syariat Islam?
Ada anggapan bahwa dengan masuk ke partai kita bisa mengubah sistem dan peraturan kenegaraan dari sistem jahiliyah ke sistem syar’iyyah secara bertahap, yakni dengan mengalihkan undang-undang sekuler ke undang-undang Islam. Bagaimanakah seharusnya sikap dan tindakan kita?

Apakah dengan alasan darurat demi membendung gerak langkah musuh-musuh Islam, kita boleh masuk ke partai dan parlemen?

Jawab :


Ketidakikutsertaan kita ke parpol berlabel Islam tidak berarti kita membiarkan parpol yang tidak berlabel Islam untuk menetapkan undang-undang sekuler karena pintu nasehat terbuka dengan banyak cara, bisa dengan bicara langsung dengan mereka (pemerintah), melalui surat atau cara lain yang sesuai dengan Islam (Lihat Asy Syariah edisi lalu tentang Cara Menasehati Penguasa).

Bukankah orang-orang yang duduk di pemerintahan kebanyakan orang-orang Islam?
Seandainya parpol berlabel Islam ikut di parlemen apakah mereka dapat merubah sistem demokrasi yang bertolak belakang 180 derajat dengan Islam? Tentu tidak.

Sehingga masuknya mereka tidak akan merubah sistem tapi justru merubah diri mereka dari orang yang taat menjadi orang yang bermaksiat. Karena sejak mereka masuk (ke dalam parlemen) sudah diambil sumpahnya untuk mengakui sistem yanga ada dan (mengakui) keberadaan partai-partai lain selain Islam. Dan ini awal kekalahan, ditambah maksiat-maksiat lain yang tidak bisa dihindari.

Apakah memperbaiki kedaan itu dengan cara bermaksiat kepada Allah atau dengan taat kepadanya?

Cara memperbaiki yang benar adalah dengan tashfiyah dan tarbiyah, membersihkan Islam dari segala kotoran dan mendidik umat di atas Islam yang murni.

Ingat ucapan Al-Imam Malik:
“Umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang (telah) memperbaiki generasi awal (umat ini).”


- Alasan bahwa dengan masuk parlemen akan bisa mengubah sisitem yang ada tak lebih sekedar dalih untuk membolehkan masuk dalam parlemen, karena sesungguhnya merubah sistem yang ada adalah sesuatu yang mustahil. Apa yang bisa mereka rubah? Kalau misalnya bisa sebagian, berapa persen besarnya?

Dan apakah mereka benar-benar bisa merubah sistem ini? Tolong dijawab secara realistis dan jangan dengan khayalan. Yang jelas sistem ini (demokrasi) adalah bathil sejak awalnya.

- Bila alasan darurat yang dipakai maka merupakan alasan yang terlalu jauh. Bagaimana kita masuk ke dalam sistem yang bertolak belakang dengan Islam lalu beralasan dengan darurat? Mana penerapan syariat Islam yang menjadi syiar pergerakan? Bagaimana mereka menerapkan syariat Islam secara kaffah dan memperjuangkannya sedang belum apa-apa sudah melanggar syariat Islam yang agung.

Coba renungkan!
Wallahu a’lam.

_______________________
(Arshavin menukil dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=766 )

Friday, July 10, 2009

Benarkah Imam Asy-Syafi'i Mengambil Berkah Di Makam Imam Hanafi?

Kategori : Tawassul
_______________




KEDUSTAAN KISAH TABARRUK IMAM ASY-SYAFI’I TERHADAP MAKAM IMAM ABU HANIFAH

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada pembimbing yang mulia Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya dengan baik.

Saudaraku kaum muslimin…..
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (semoga Allah senantiasa merahmati beliau) tidak diragukan lagi adalah salah seorang ulama’ Ahlussunnah. Beliau adalah salah seorang pewaris Nabi. Para penentang dakwah Ahlussunnah banyak yang menukil ucapan atau perbuatan beliau. Namun sayangnya, nukilan tentang beliau juga tidak sedikit yang berdasarkan riwayat yang lemah bahkan palsu.

Salah satu kisah yang hampir selalu ada bersamaan dengan syubhat tentang tawassul dan tabarruk adalah kisah tabarruknya Imam Asy-Syafi’i di kuburan Abu Hanifah. Di dalam salah satu blog penentang dakwah Ahlussunnah terdapat tulisan berjudul ‘Tawassul / Istighatsah (1); Sebuah Pengantar’ di sana disebutkan kisah tersebut.

Tulisan ini akan membahas secara ilmiah sisi kelemahan riwayat kisah tersebut disertai bukti pertentangannya dengan keyakinan Imam Asy-Syafi’i, maupun Abu Hanifah dan pengikut madzhabnya sendiri terkait hal-hal yang dibenci dilakukan terhadap kuburan, disertai dengan dalil hadits Nabi yang melarang perbuatan pengagungan terhadap kuburan. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan hidayahNya kepada kita semua….

(Untuk selanjutnya, kutipan di antara tanda “[[ .........]]” adalah isi tulisan dari blog penentang Ahlussunnah)

Syubhat :

[[

Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)

]]

Bantahan :

Mengenai sanad riwayat tersebut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany menyatakan: “ Ini adalah riwayat yang lemah bahkan batil. Karena sesungguhnya perawi yang bernama Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidaklah dikenal. Tidak ada penyebutan tentangnya sedikitpun dalam kitab-kitab tentang perawi. Bisa jadi yang dimaksud adalah ‘Amr (dengan fathah pada ‘ain) bin Ishaq bin Ibrohim bin Humaid bin as-Sakn Abu Muhammad at-Tuunisi. Al-Khotib (al-Baghdady) menyebutkan biografinya dan menyatakan bahwa ia adalah Bukhary (berasal dari Bukhara) datang ke Baghdad dalam rangka menunaikan haji pada tahun 341 H. Tetapi (al-Khotib) tidaklah menyebutkan jarh(celaan), tidak pula ta’diil (pujian) sehingga dalam kondisi ini ia adalah majhuulul haal (keadaanya tidak dikenal).



(Tetapi) kemungkinan (bahwa ia adalah ‘Amr) jauh, karena tahun kematian syaikhnya : Ali bin Maymun pada tahun 247 H menurut kebanyakan pendapat. Sehingga jarak kematian antara keduanya adalah sekitar 100 tahun, sehingga jauhlah kemungkinan bahwa keduanya pernah bertemu” ( Lihat Silsilah al-Ahaadits Adh-Dhaifah juz 1 halaman 99).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam Iqtidho’ Shirothol Mustaqiim halaman 165:

وهذا كذلك معلوم كذبه بالاضطرار عند من له معرفة بالنقل ، فإن الشافعي لما قدم بغداد لم يكن ببغداد قبر ينتاب للدعاء عنده البتة ، بل ولم يكن هذا على عهد الشافعي معروفا ، وقد رأى الشافعي بالحجاز واليمن والشام والعراق ومصر من قبور الأنبياء والصحابة والتابعين ، من كان أصحابها عنده وعند المسلمين أفضل من أبي حنيفة وأمثاله من العلماء . فما باله لم يتوخ الدعاء إلا عنده . ثم أصحاب أبي حنيفة الذين أدركوه مثل أبي يوسف ومحمد وزفر والحسن بن زياد وطبقتهم ، ولم يكونوا يتحرون الدعاء لا عند أبي حنيفة ولا غيره .
ثم قد تقدم عند الشافعي ما هو ثابت في كتابه من كراهة تعظيم قبور المخلوقين خشية الفتنة بها ، وإنما يضع مثل هذه الحكايات من يقل علمه ودينه .

“ yang demikian ini telah dimaklumi kedustaannya secara idlthirar bagi orang yang memiliki pengetahuan tentang penukilan. Karena sesungguhnya As-Syafi’i ketika datang ke Baghdad tidak ada di Baghdad kuburan yang sering dikunjungi (khusus) untuk berdoa di sisinya sama sekali. Bahkan tidak pernah dikenal yang demikian di masa Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, dan Mesir kuburan-kuburan para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang terdekatnya yang sebenarnya menurut beliau dan menurut kaum muslimin lebih mulia dari Abu Hanifah dan semisalnya dari kalangan para Ulama’. Maka mengapa beliau tidak menyengaja datang kecuali ke sana (kubur Abu Hanifah). Kemudian, para Sahabat Abu Hanifah sendiri yang sempat mendapati kehidupan Abu Hanifah semisal Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, al-Hasan bin Ziyaad dan yang sepantaran dengan mereka. Mereka tidak ada yang menyengaja berdoa di sisi kuburan, baik kuburan Abu Hanifah ataupun yang lainnya. Kemudian, telah berlalu penjelasan dari Asy-Syafi’i hal yang telah disebutkan dalam kitab beliau tentang dibencinya pengagungan terhadap kubur para makhluq karena dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah. Sesungguhnya hikayat yang semacam ini diletakkan oleh orang yang sedikit ilmu dan (pemahaman) Diennya”.


Memang benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- bahwa salah satu bukti jelas kedustaan kisah tersebut adalah Imam Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitabnya tentang dibencinya pengagungan terhadap kuburan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sendiri :

وأكره ان يعظم مخلوق حتي يجعل قبره مسجدا مخافة الفتنة عليه وعلي من بعده من الناس

“ dan aku benci makhluq diagungkan sampai kuburannya dijadikan sebagai masjid, (karena) dikhawatirkan adanya fitnah untuk dirinya dan untuk orang-orang setelahnya” (lihat al-Majmu’ karya Imam AnNawawi juz 5 halaman 314, al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i sendiri juz 1 halaman 317).


Benar pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa di masa hidup Imam Asy-Syafi’i tidak ada kuburan yang dibangun dan disediakan tempat yang memungkinkan untuk berdoa khusus di sisinya. Hal ini karena memang para pemerintah muslim pada waktu itu memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan pada kuburan, dan sikap pemerintah muslim tersebut tidak dicela oleh para fuqaha’ (ahli fiqh) pada waktu itu, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Asy-Syafi’i:


وقد رأيت من الولاة من يهدم بمكة ما يبنى فيها فلم أر الفقهاء يعيبون ذلك

“ dan aku telah melihat para waliyyul amri (pemimpin muslim) di Mekkah yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan. Aku tidak melihat para Fuqoha’ (Ulama’ ahli fiqh) mencela hal itu” (Lihat kitab al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i juz 1 halaman 316, al-Majmu’ karya Imam AnNawawy juz 5 halaman 298).


Sikap para pemimpin muslim yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan tersebut memang sesuai dengan hadits Nabi:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“ dari Jabir beliau berkata : Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan di’lepa’ (semen/kapur), diduduki di atasnya, dan dibuat bangunan di atasnya”(H.R Muslim)



عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ


“ dari Abul Hayyaj al-Asady beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata kepadaku: Maukah kau aku utus sebagaimana Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam mengutusku? Janganlah engkau tinggalkan patung/gambar bernyawa kecuali engkau hapus dan jangan tinggalkan kuburan yang diagungkan kecuali diratakan” (H.R Muslim)

Sedikit faidah yang bisa diambil, ketika mensyarah hadits ini Imam An-Nawawy menyatakan: ‘di dalamnya terdapat perintah mengganti/merubah gambar-gambar makhluk bernyawa’).

Perhatikan pula kalimat dalam kisah tersebut:

Bahwa Asy-Syafi’i mendatangi kuburan Abu Hanifah setiap hari. Ya, disebutkan dalam kisah itu ‘setiap hari’. Bagi orang yang berakal, dan paham tentang perjalanan hidup Asy-Syafi’i jelas akan melihat sisi lain dari kedustaan kisah tersebut. Al-Imam Asy-Syafi’i banyak melakukan perjalanan menuntut ilmu dari satu negeri ke negeri yang lain.

(Coba kita perhatikan...)

Beliau dilahirkan di daerah Gaza (Syam) dan tumbuh besar di tanah suci Mekkah (sebagaimana dijelaskan Adz-Dzahaby dan al-Imam AnNawawi dalam Tahdzib Asma’ Wal Lughot (1/49)). Beliau mempelajari fiqh awalnya di Mekkah dari Muslim bin Kholid Az-Zanji dan Imam-imam Mekkah yang lain seperti Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin ‘Iyaadl. Kemudian beliau pindah ke Madinah menuntut ilmu pada Imam Maalik.

Selanjutnya beliau pindah ke Yaman untuk berguru pada Muthorrif bin Maazin, Hisyam bin Yusuf al-Qodhy, dan beberapa ulama’ lain. Dari Yaman beliau menuju Iraq (Baghdad) untuk bermulaazamah (fokus menuntut ilmu) pada ahli fiqh Iraq yaitu Muhammad bin al-Hasan.

Beliau mengambil ilmu juga pada Isma’il bin ‘Ulyah, Abdul Wahhab ats-Tsaqofy, dan beberapa Ulama’ yang lain. Setelah beberapa lama di Iraq, beliau kemudian pindah ke Mesir, dan di Mesir inilah pendapat-pendapat baru (qoul qodiim) Imam Asy-Syafi’i sering dijadikan rujukan (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ pada bagian yang mengisahkan biografi Imam Asy-Syafi’i).


Perhatikanlah, demikian sibuk Imam Asy-Syafi’i dengan menuntut ilmu dari satu Syaikh (guru) ke syaikh yang lain. Beliau juga menempuh perjalanan lintas negeri. Bagaimana mungkin setiap hari beliau berdoa di makam Abu Hanifah?

Bagaimana mungkin –jika memang berdoa di sisi makam dengan tawassul pada penghuni kuburan tersebut diperbolehkan menurut beliau- dikhususkan pada makam Abu Hanifah, padahal salah satu tempat menuntut ilmu beliau adalah Madinah, tempat dimakamkannya manusia terbaik, Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.


Negeri-negeri lain yang beliau singgahi banyak kuburan para Nabi, para Sahabat Nabi, tabi’in dan orang-orang yang jauh lebih utama dari Abu Hanifah, maka mengapa beliau mengkhususkan pada kuburan Abu Hanifah? Padahal beliau tidaklah pernah mengambil ilmu langsung dari Abu Hanifah. Bagaimana bisa mengambil ilmu, jika tahun kematian Abu Hanifah bertepatan dengan tahun kelahiran beliau?


Selanjutnya, akan disebutkan penjelasan dari Ulama’ lain bahwa kisah tersebut memang dusta. Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan : “ hikayat yang dinukilkan dari Asy-Syafi’i bahwa beliau memaksudkan doa di sisi kuburan Abu Hanifah adalah kedustaan yang jelas” (Lihat Ighatsatul Lahafaan (1/246)).



Sebenarnya bagi orang yang mengerti kadar keilmuan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, cukuplah hal itu sebagai penjelas. Kami akan nukilkan ucapan ahlut tafsir Ibnu Katsir tentang guru sekaligus sahabatnya tersebut, Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah agar orang-orang yang meremehkannya menjadi sadar (InsyaAllah suatu saat akan dikaji penjelasan tentang beliau khusus sebagai bantahan bagi orang-orang yang membencinya).


Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan tentang beliau :

ولد في سنة إحدى وتسعين وستمائة وسمع الحديث واشتغل بالعلم وبرع في علوم متعددة لا سيما علم التفسير والحديث والأصلين ولما عاد الشيخ تقي الدين ابن تيمية من الديار المصرية في سنة ثنتي عشرة وسبعمائة لازمه إلى أن مات الشيخ فأخذ عنه علماً جما مع ما سلف له من الاشتغال فصار فريداً في بابه في فنون كثيرة مع كثرة الطلب ليلاً ونهاراً وكثرة الابتهال وكان حسن القراءة والخلق كثير التودد لا يحسد أحداً ولا يؤذيه ولا يستعيبه ولا يحقد على أحد وكنت من أصحب الناس له وأحب الناس إليه ولا أعرف في هذا العالم في زماننا أكثر عبادة منه وكانت له طريقة في الصلاة يطيلها جداً ويمد ركوعها وسجودها

“beliau dilahirkan pada tahun 691 H. Banyak mendengar hadits, sibuk dengan ilmu, mahir dalam ilmu yang bermacam-macam khususnya ilmu tafsir, hadits, dan ilmu-ilmu Ushul. Dan ketika Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah kembali dari Mesir pada tahun 712 H, beliau bermulazamah (memfokuskan diri untuk belajar pada Ibnu Taimiyyah), sampai meninggalnya Syaikh (Ibnu Taimiyyah), maka beliau mengambil darinya ilmu yang banyak, bersamaan dengan kesibukan beliau sebelumnya, sehingga jadilah beliau orang yang istimewa dalam beberapa bidang yang banyak.

Bersamaan dengan banyaknya kesibukan beliau menuntut ilmu siang malam, banyak beribadah, dan beliau baik bacaan (Quran)nya, baik akhlaqnya, memiliki sifat penyayang, tidak pernah dengki pada siapapun, tidak pernah menyakiti siapapun, tidak pernah mencari aib orang lain, tidak pernah dendam pada seorangpun, dan saya termasuk sahabat terdekatnya, dan manusia yang paling dicintainya, dan saya tidak mengetahui di zaman kami ada orang yang lebih banyak ibadahnya dibandingkan beliau. Beliau jika sholat (sunnah) sangat lama, memanjangkan waktu ruku’ dan sujudnya”

(Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah juz 14 halaman 270).

Simaklah persaksian Ibnu Katsir tentang keilmuan dan akhlaq Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. Jika Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa hikayat itu dusta, tidaklah penilaian beliau itu bersifat tendensius karena membenci kelompok tertentu sehingga kemudian tidak obyektif. Beliau bukanlah orang yang berakhlak buruk, suka dendam dan mencari aib orang lain. Beliau menilai kedustaan tersebut atas dasar keilmuan beliau.

Hal lain yang menunjukkan sisi kelemahan kisah itu –sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- adalah tidak adanya Sahabat/ murid dekat Abu Hanifah yang melakukan hal itu. Tidak ada di antara mereka yang sering datang ke kuburan Abu Hanifah untuk berdoa dan bertawassul agar doanya lebih mudah dikabulkan. Bagaimana tidak, jika perbuatan semacam itu dibenci oleh Abu Hanifah. Beliau tidak suka jika makhluk dijadikan perantara dalam doa seorang hamba kepada Allah. Al-Imam Abu Hanifah berkata:

لا ينبغي لاحد أن يدعو الله إلا به ، والدعاء المأذون فيه ، المأمور به ، ما استفيد من قوله تعالى : { ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون{

“ tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdoa kepada Allah kecuali denganNya, dan doa yang diijinkan dan diperintahkan adalah apa yang bisa diambil faidah dari firman Allah: ‘Hanya milik Allah asmaa-ul husna,, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan’ (Lihat Ad-Durrul Mukhtaar min Haasyiyatil Mukhtaar(6/396-397)).

يكره أن يقول الداعي : أسألك بحق فلان أو بحق أنبيائك ورسلك وبحق البيت الحرام والمشعر الحرام

“ adalah suatu hal yang dibenci jika seorang berdoa:’ aku memohon kepadaMu dengan hak Fulaan, atau dengan hak para Nabi dan RasulMu dan hak Baitul Haram, dan Masy-‘aril Haraam “ (Lihat Syarh Fiqhil Akbar lil Qoori halaman 189).
Kalau kita melihat sikap para Ulama’ Salaf, justru mereka mengingkari perbuatan orang yang berdoa di sisi makam untuk bertawassul. Kita ambil satu contoh yang dilakukan oleh ‘Ali bin Husain yang merupakan cucu Sahabat Nabi ‘Ali bin Abi Tholib.

Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam Mushannafnya dan juga Ibnu Abi Syaibah :
عن علي بن الحسين أنه رأى رجلا يجئ إلى فرجة كانت عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم فيدخل فيها فيدعو فقال ألا أحدثك بحديث سمعته من أبي عن جدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (لا تتخذوا قبري عيدا ولا بيوتكم قبورا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيثما كنتم(

“ dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka Ali bin Husain berkata: ‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan.

Dan bersholawatlah kepadaku karena sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).

Hadits tersebut dihasankan oleh al-Hafidz As-Sakhowy (murid Ibnu Hajar al-‘Asqolaany). Silakan dilihat pada kitab al-Qoulul Badi’ fis Sholaati ‘ala habiibisy Syafii’ halaman 228)

Demikianlah saudaraku kaum muslimin, sedikit penjelasan tentang kedustaan kisah tabarruk Imam Asy-Syafi’i di makam Imam Abu Hanifah. Perlu dipahami, bahwa jika kita menyatakan secara ilmiah bahwa kisah itu dusta bukan berarti kita menuduh al-Khotib al-Baghdady sebagai pendusta. Beliau sekedar menyebutkan riwayat.

Dalam penyebutan riwayat, beliau mendapat khabar tersebut dari orang yang menyampaikan kepadanya, orang yang menyampaikan kepada beliau mengaku mendapat khabar dari orang yang di ‘atas’nya dan seterusnya. Telah dijelaskan di atas bahwa pada rantaian perawi kisah tersebut terdapat orang yang majhul (tidak dikenal di kalangan para Ulama’ Ahlul Hadits yang ahli dalam meneliti periwayatan).

Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak kalimat-kalimat indah yang disampaikan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sebagai pelajaran penting bagi kita semua. Beliau menyatakan kalimat-kalimat berikut ini:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بها، ودعوا ما قلته

“ jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam maka berbicaralah dengan Sunnah itu dan tinggalkanlah ucapanku” (Lihat Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (9/106) dan Siyaar a’laamin Nubalaa’ karya Adz-Dzahaby juz 10 halaman 34).


متى رويت عن رسول الله حديثا صحيحا ولم آخذ به، فأشهدكم أن عقلي قد ذهب

“ Kapan saja aku meriwayatkan dari Rasulullah hadits shahih kemudian aku tidak berpegang (berpendapat) dengannya, maka persaksikanlah bahwa akalku telah pergi” (Lihat Siyar a’laamin Nubalaa’ juz 10 halaman 34).

كل ما قلته فكان من رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما صح، فهو أولى، ولا تقلدوني

“ semua yang aku ucapkan, jika ada (khabar) yang shohih dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyelisihi ucapanku, maka itu lebih utama (untuk diikuti), dan janganlah taklid kepadaku”

(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 10 halaman 34, al-Manaaqib karya Adz-Dzahaby (1/473)).


__________________

(Arshavin copied from http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1511
Penulis Asal: Abu Utsman Kharisman )Z

Monday, July 06, 2009

Syi'ah Imamiyah Iran,Siapakah Mereka?

Kenali Syiah Secara Ringkas
PENGENALAN RINGKAS SYI'AH IMAMIYYAH
__________________


Ajaran Syi'ah pada hakikatnya adalah merupakan ciptaan musuh-musuh Islam yang terdiri daripada Yahudi, Nasrani dan Majusi. Untuk kita mengetahui lebih lanjut lagi tentang kelahiran Syi'ah ini marilah kita merenung sejenak sejarah silam iaitu sejarah zaman Khalifah ketiga umat Islam iaitu Khalifah Uthman bin Affan r.a.

Zaman permulaan Islam iaitu pada zaman Khulafa ur-Rasyidin, Islam begitu kuat sehingga tidak mampu diganggu gugat oleh musuh secara berdepan. Sehingga dua kuasa besar pada ketika itupun iaitu kerajaan Rom dan Farsi pun terpaksa tunduk kepada kekuasaan kerajaan Islam. Kerana itu kita melihat pada zaman Sayyidina Umar r.a. lagi sudah nampak pakatan musuh Islam untuk menghancurkan kekuasaan Islam ketika itu dan antara perancangan yang dilakukan mereka adalah dengan membunuh khalifah Umar r.a.

Seterusnya pada zaman Sayyidina Uthman r.a. musuh-musuh Islam ini masih lagi tidak mampu untuk menghadapi umat Islam secara berdepan maka mereka telah membuat perancangan untuk menghancurkan Islam dari dalam, maka hasil dari perancangan tersebut muncul lah seorang yang bernama Ibnu Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi sebenarnya adalah bertujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Taktik yang digunakan oleh Ibnu Saba' adalah dengan memecah-belahkan kesatuan umat Islam dengan cara menyebarkan ajaran yang bukan berasal dari Islam tapi atas nama Islam.

Ajaran Ibnu Saba’ yang kemudiannya diterima oleh golongan Syi'ah sebenarnya adalah berasal dari Yahudi, Nasrani serta Majusi. Di zaman Sayyidina Uthman r.a. Ibnu Saba’ telah berjaya menaburkan racunnya kepada golongan-golongan yang baru memeluk agama Islam, tidak kuat keislamannya serta berada jauh dari kalangan sahabat-sahabat r.a.

Namun begitu golongan Syi'ah cuba untuk menafikan kewujudan Ibnu Saba’ ini dan mereka mengatakan ianya adalah manusia khayalan yang direka-reka kewujudannya oleh golongan yang memusuhi Syi'ah. Tetapi jika diperhatikan kepada kitab-kitab sejarah samaada dari kalangan Ahlus Sunnah mahupun Syi'ah maka kewujudan Ibnu Saba’ ini tidak dapt dinafikan lagi.

Umpamanya di dalam kitab rijal yang paling utama di sisi Syi'ah iaitu Ikhtiyaru Ma'rifatir Rijal yang lebih dikenali dengan Rijal Kasyi pengarangnya Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Bin Ali At-Thusi telah menukilkan riwayat daripada Imam Ja'far As-Sadiq yang berbunyi:

عن ابن سنان، قال، قال أبوعبدالله عليه السلام: انا أهل بيت صادقون، لانخلو من كذاب يكذب علينا، فيسقط صدقنا بكذبه علينا عند الناس، كان رسول الله صلى الله عليه وآله أصدق البرية لهجة، وكان مسيلمة يكذب عليه. وكان أمير المؤمنين عليه السلام أصدق من برأ الله من بعد رسول الله صلى الله عليه وآله، وكان الذي يكذب عليه ويعمل في تكذيب صدقه بما يفتري عليه من الكذب عبدالله بن سبا لعنه الله

Daripada Ibnu Sinan katanya, Abu Abdillah a.s. berkata, "Sesungguhnya kami Ahlul Bait adalah orang-orang yang benar, kami tidak sunyi daripada pendusta-pendusta yang berdusta atas nama kami lalu gugurlah kebenaran kami di sisi manusia disebabkan oleh pendustaan yang dilakukan atas nama kami. Nabi s.a.w. adalah orang yang paling benar ucapannya dan Musailamah telah berdusta atas namanya. Amirul mukminin (Ali) a.s. adalah orang yang paling benar diciptakan oleh Allah selepas Rasulullah s.a.w. dan orang yang berdusta atas namanya serta berusaha dalam mendustakan kebenarannya dengan mengadakan dusta atas nama beliau adalah Abdullah bin Saba' semoga Allah melaknatnya". (Rijal Kasyi juz 4 hal 305)
Di antara tokoh-tokoh Syi'ah yang lain yang menyebutkan perkara sama ialah an-Naubakhti dalam “Firaq asy-Syi'ah” (hal: 43-44), al-Hulli dalam “Kitab al-Rijal” (hal: 469), Mamaqami seorang tokoh ulamak mutaakhir Syi'ah tentang Rijal dalam kitabnya “Tanqihu al-Maqal” Jilid 2 hal: 184), al-Ustarabadi dalam kitab “Manhaju al-Maqal” (hal: 203), Ibnu Abi al-Hadid dalam “Syarah Nahju al-Balaghah” (Jilid 2 hal: 309), Syeikh Abbas al-Qummi dalam kitabnya “Tuhfatu al-Ahbab” (hal: 184) dan lain-lain.
Begitu juga di kalangan tokoh-tokoh ahli Sunnah yang menyebutkan berkenaan ajaran Ibnu Saba’ ini dan peranannya dalam memecahbelahkan umat Islam ialah Abu Hasan al-Asyaari dalam “Maqalat al-Islamiyin” (Jilid 1 hal:50), Abdul Qahir al-Baghdadi dalam “al-Farqu Baina al-Firaq” (hal: 233-235), al-Isfiraini dalam “at-Tabsir fi ad-Din” (hal: 108-109), Syahrastani dalam “al-Milal wa an-Nihal” (Jilid 2 hal: 11), at-Tabari dalam “Tarikh al-Umam wa al-Muluk” (Jilid 5 hal 90), Ibnu Kathir dalam “al-Bidayah wa an-Nihayah” (Jilid 7 Hal: 167), Hafiz Ibnu Hajar dalam “Lisan al-Mizan” (Jilid 3 hal: 289), Yaqut Al-Hamawi dalam Mu'jamul Buldan (Jilid 2 hal. 306) dan lain-lain.
Antara ajaran Syi'ah yang bertentangan dengan Islam.

1. Aqidah al-Imamah dan al-Walayah
Iaitu kepercayaan bahawa Imam-Imam Dua Belas itu dilantik berdasarkan nas dari pihak Allah dan mereka adalah maksum terpelihara dari dosa kecil dan besar serta dari lupa dan lalai.
Kepercayaan ini begitu penting di dalam ajaran Syi’ah, sehingga ia merupakan salah satu syarat keimanan dan dianggap terpenting dari antara rukun-rukun Islam yang lain. Setiap Nabi yang datang telah mengakui keimaman dan walayah Ali dan seseorang yang tidak mengenal Imam-Imamnya dianggap tidak mengenal Allah. Kepercayaan ini terdapat dalam mana-mana kitab Syi'ah terutamanya kitab al-Kafi. Antaranya:
عن فضيل بن يسار، عن أبي جعفر عليه السلام قال: بني الاسلام على خمس: على الصلاة والزكاة والصوم والحج والولاية ولم يناد بشئ كما نودي بالولاية، فأخذ الناس بأربع وتركواهذه يعني الولاية.
Al-Kulaini meriwayatkan dari Fudhail dari Abi Jaafar a.s. Kata beliau: “Islam ditegakkan di atas lima perkara; sembahyang, zakat, puasa, haji dan walayah. Tidak ada satu pun daripada rukun-rukun yang tersebut yang diseru sebagaimana seruan yang diberikan kepada al-Walayah. Lalu manusia mengambil keempat-empatnya dan meninggalkan yang ini, iaitu walayah.” (al-Usul Min al-Kafi – jilid 2 halaman 20)
Khomeini juga menyebutkan berkenaan dengan kepercayaan kepada imam-imam ini yang antaranya berbunyi:

ان للامام مقاما محمودا لا يبلغه ملك مقرب ولا نبى مرسل.
Bermaksud: "Sesungguhnya imam itu mempunyai kedudukan yang terpuji yang tidak sampai kepadanya malaikat yang hampir kepada Allah dan nabi lagi rasul". (al-Hukumah al-Islamiah – hal 52)

2. Aqidah Takfir as-Sahabah (Aqidah Mengkafirkan Sahabat)

Iaitu akidah tentang majoriti para sahabat telah murtad yang tidak tersembunyi kepada sesiapa sahaja yang pernah membaca kitab-kitab Syi’ah, sehingga bolehlah dikatakan tidak ada sebuah kitab Syi’ah yang muktabar terutamanya yang ditulis oleh ulamak-ulamak mereka yang lalu melainkan pasti tersebut di dalamnya riwayat-riwayat yang mengkafirkan atau memurtadkan para sahabat atau melaknat, memaki hamun dan melakukan tabarri (tabarra – yakni menyatakan sikap berlepas diri dan tidak mempunyai hubungan kasih sayang) terhadap mereka. Tidak terlepas daripada tuduhan-tuduhan mereka sahabat-sahabat besar Rasullullah s.a.w sekalipun seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Uthman, Abdul Rahman bin ‘Auf, isteri-isteri Rasullullah s.a.w dan lain-lain.

Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Jaafar a.s. kata beliau: “Para sahabat telah menjadi murtad sepeninggalan Rasullullah s.a.w kecuali tiga orang dari mereka.” Aku bertanya (kata perawi): “Siapakah yang tiga itu?” Abu Jaafar menjawab: “Miqdad bin al-Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al- Farisi.”(ar-Raudhah Min al-Kafi – jilid 8 hal 245)

Bahkan mereka mengatakan bahawa imam Ja'far As-Sadiq mejadikan laknat beberapa orang sahabat sebagai wirid selepas sembahyangnya sebagaimana yang dinukilkan oleh Al-Kulaini:

عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ ثُوَيْرٍ وَ أَبِي سَلَمَةَ السَّرَّاجِ قَالَا سَمِعْنَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (ع) وَ هُوَ يَلْعَنُ فِي دُبُرِ كُلِّ مَكْتُوبَةٍ أَرْبَعَةً مِنَ الرِّجَالِ وَ أَرْبَعاً مِنَ النِّسَاءِ فُلَانٌ وَ فُلَانٌ وَ فُلَانٌ وَ مُعَاوِيَةُ وَ يُسَمِّيهِمْ وَ فُلَانَةُ وَ فُلَانَةُ وَ هِنْدٌ وَ أُمُّ الْحَكَمِ أُخْتُ مُعَاوِيَةَ

Daripada Husain dan Abi Salamah katanya, "Kami mendengar Abu Abdillah a.s. melaknat selepas setiap sembahyang fardhu empat orang lelaki dan empat orang perempuan iaitu si-fulan,si-fulan,si-fulan dan Mu'awiyah serta ia menyebut nama mereka dan si-fulanah,si-fulanah, Hindun dan Ummul Hakam saudara perempuan Mu'awiyah. (Al-Kafi jilid 3 hal. 343)

Yang dimaksudkan dengan "si-fulan" di dalam kitab-kitab Syi'ah adalah yang pertama Abu Bakar r.a., kedua Umar r.a. dan ketiga Uthman r.a. sementara "si-fulanah" adalah yang pertama Aisyah r.a. dan kedua Hafsah r.a.

3. Aqidah ar-Raj’ah

Iaitu salah satu aqidah Syi’ah yang jelas bercanggah dengan ajaran Islam iaitu kepercayaan tentang akan dibangkitkan para Imam sebelum qiamat untuk menuntut bela atau menghukum orang-orang zalim yang telah merampas hak-hak mereka. Kepercayaan ini merupakan perkara yang telah diijmakkan oleh para ulamak Syi’ah. Antaranya Syeikh Mufid menyebutkan:
"واتفقت الإمامية على وجوب رجعة كثير من الأموات"
Bermaksud: “Golongan Imamiah sependapat tentang wajibnya raj’ah (kembali) sebahagian besar dari orang-orang mati ke dunia sebelum qiamat.”( Awaailu al-Maqaalat, halaman 52)

4. Tahrif al-Quran.

Iaitu kepercayaan bahawa al-Quran yang di tangan umat Islam kini sudah berlaku tokok tambah, pengurangan, penambahan dan penyelewengan padanya. Akidah ini juga merupakan satu akidah yang sangat penting di sisi Syiah sehingga ulamak-ulamak mereka menganggap ianya adalah merupakan dharuriat ajaran Syiah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ulamak tafsir terkemuka Syiah Sayyid Hashim al-Bahrani di dalam kitabnya Tafsir al-Burhan di dalam Muqaddimah Fasal 4,halaman 49. Di antara ulamak Syiah yang mengakui berlakunya tahrif kepada al-Quran adalah Allamah Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuuri at-Thabarsi bilamana beliau menukilkan kata-kata Sayyid Ni'matullah al-Jazaairi di dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu'maniyyah yang berbunyi:

أن الأصحاب قد أطبقوا على صحة الأخبار المستفيضة بل المتواترة الدالة بصريحها على وقوع التحريف في القرآن
Bermaksud: "Sesungguhnya tokoh-tokoh Syi’ah telah sepakat tentang sahihnya hadits-hadits yang sampai ke peringkat mutawaatir yang menunjukkan dengan jelas tentang berlakunya penyelewengan terhadap al-Quran.” (Fashlul Khitab Fi Tahrif Kitabi Rabbil Arbab m.s. 31).

Kitab-kitab utama Syiah juga tidak sunyi daripada mengemukakan riwayat-riwayat daripada imam-imam maksum mereka berkenaan aqidah ini. Antaranya apa yang dikemukakan oleh al-Kulaini di dalam kitabnya yang berbunyi:

عن جابر قال: سمعت أبا جعفر عليه السلام يقول: ما ادعى أحد من الناس أنه جمع القرآن كله كما أنزل إلا كذاب، وما جمعه وحفظه كما نزله الله تعالى إلا علي بن أبي طالب عليه السلام والائمة من بعده عليهم السلام

Bermaksud: Daripada Jabir katanya, aku mendengar Abu Ja'far a.s. berkata: "Tidaklah seseorang itu mendakwa bahawa ia telah mengumpulkan al-Quran kesemuanya sebagaimana diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, al-Quran tidak dihimpunkan dan dihafal sebagaimana diturunkan oleh Allah Taala kecuali Ali bin Abi Talib a.s. dan imam-imam selepasnya a.s."(Usul Al-Kafi jilid 1 ms. 228).

Dan banyak lagi riwayat-riwayat dari imam-imam maksum di sisi Syi'ah yang menyebutkan berkenaan penyelewengan al-Quran di dalam kitab-kitab utama mereka seperti Tafsir al-'Aiyyasyi, Tafsir al-Qummi, Bashaair ad-Darajat, Al-Anwar An-Nu'maniyyah dan lain-lain lagi.

5. Kahwin mut'ah iaitu kahwin kontrak.

Iaitu perzinaan di atas nama Islam. Satu bentuk perkahwinan yang tidak memerlukan tanggungjawab, nafkah, pusaka dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan perkahwinan yang berkekalan. Perkahwinan yang semata-mata berlandaskan nafsu dan untuk berseronok.

Al-Kulaini menukilkan satu riwayat berkenaan mut'ah daripada imam Muhammad al-Baqir:

، عن محمد بن مسلم، عن أبي جعفر (ع في المتعة قال: ليست من الاربع لانها لاتطلق ولاترث وإنما هي مستأجرة

Bermaksud: Daripada Muhammad bin Muslim daripada Abu Ja'far a.s. berkenaan mut'ah katanya, "Mereka-mereka itu (perempuan) bukan dari kalangan empat isteri kerana mereka tidak diceraikan dan tidak mewarisi. Mereka hanyalah perempuan sewaan". (Furu' al-Kafi jilid 5 hal. 284)

Dalam riwayat yang lain pula Kulaini menukilkan:

عن زرارة، عن أبي عبدالله قال: لا تكون متعة إلا بأمرين أجل مسمى وأجر مسمى
Bermaksud: Daripada Zurarah daripada Abu Abdillah a.s. katanya, "Tidak berlaku mut'ah kecuali dengan dua perkara iaitu tempoh yang ditentukan dan mahar yang ditentukan".(ibid hal. 286)

6. Taqiyyah.

Iaitu menyembunyikan sesuatu yang terdapat dalam hati dan menyatakan yang sebaliknya. Dalam ertikata yang mudah ianya adalah berbohong yang di atasnamakan Islam. Ajaran ini adalah merupakan ajaran yang sangat penting dalam ajaran Syi'ah sehingga sembilan persepuluh dari ajaran Syi'ah terletak pada taqiyyah (al-kafi j.2 hal 217) dan ia merupakan satu senjata yang sangat ampuh bagi ajaran ini.

Untuk menjelaskan hakikat taqiyyah ini Al-Kulaini mengemukakan satu riwayat yang berbunyi:
قال أبوعبدالله عليه السلام: يا معلى اكتم أمرنا ولاتذعه، فإنه من كتم أمرنا ولم يذعه أعزه الله به في الدنيا وجعله نورا بين عينيه في الآخرة، يقوده إلى الجنة، يا معلى من أذاع أمرنا ولم يكتمه أذله الله به في الدنيا ونزع النور من بين عينيه في الآخرة وجعله ظلمة تقوده إلى النار، يا معلى إن التقية من ديني ودين آبائي ولادين لمن لاتقية له

Abu Abdillah a.s. berkata: "Wahai Mu'alla! Sembunyikan urusan (agama) kami dan jangan nyatakannya, kerana sesungguhnya orang yang menyembunyikan agama kami dan tidak menyatakannya akan dimuliakan oleh Allah di dunia dan Allah akan menjadikannya sebagai cahaya di antara dua matanya di akhirat yang akan membawanya ke syurga. Wahai Mu'alla! Orang yang menyatakan agama kami dan tidak menyembunyikannya akan di hina oleh Allah di dunia dan Allah akan membuang cahaya di antara dua matanya di akhirat dan akan menjadikannya kegelapan yang mengheretnya ke neraka. Wahai Mu'alla! Sesungguhnya taqiyyah adalah agamaku dan agama datuk nenekku dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bertaqiyyah".(Usul al-Kafi jilid 2 hal 225)
، عن مسعدة ابن صدقة، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: ذكرت التقية يوما عند علي بن الحسين عليهما السلام فقال: والله لو علم أبوذر ما في قلب سلمان لقتله
Daripada Mas'adah daripada Abu Abdillah a.s. katanya, "Pada suatu hari disebutkan taqiyyah dekat Ali bin Al-Husain a.s. lalu dia berkata: "Demi Allah kalaulah Abu Zar mengetahui apa yang terdapat di dalam hati Salman tentu dia akan membunuh Salman". (Usul al-Kafi jilid 1 hal 402)

Dua riwayat ini pun sudah cukup untuk menjelaskan hakikat taqiyyah di dalam ajaran Syi'ah. Kerana senjata taqiyyah inilah ajaran Syi'ah dapat menyelinap masuk ke dalam tengah-tengah masyarakat Ahlus Sunnah dan seterusnya memperdaya mereka sehingga akhir sekali dalam keadaan tidak sedar golongan Ahlus Sunnah satu demi satu berjaya di Syi'ahkan dan boleh menerima segala ajaran-ajaran yang tidak masuk akal di dalam ajaran Syi'ah.

6. Pandangan Syi'ah terhadap Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Jika dilihat dalam kitab-kitab Syi'ah banyak sekali penghinaan yang diberikan mereka terhadap golongan Ahlus Sunnah. Di kesempatan ini kita akan kemukakan satu riwayat sahaja.

عَنِ ابْنِ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع) َ قَالَ لَا تَغْتَسِلْ مِنَ الْبِئْرِ الَّتِي تَجْتَمِعُ فِيهَا غُسَالَةُ الْحَمَّامِ فَإِنَّ فِيهَا غُسَالَةَ وَلَدِ الزِّنَا وَ هُوَ لَا يَطْهُرُ إِلَى سَبْعَةِ آبَاءٍ وَ فِيهَا غُسَالَةَ النَّاصِبِ وَ هُوَ شَرُّهُمَا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ خَلْقاً شَرّاً مِنَ الْكَلْبِ وَ إِنَّ النَّاصِبَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْكَلْبِ

Daripada Abi Ya'fur daripada Abu Abdillah a.s. katanya, "Jangan mandi dari telaga yang berhimpun padanya air mandian dari bilik mandi kerana padanya terdapat air mandian anak zina dan ia tidak akan bersih sehingga tujuh keturunan dan padanya juga terdapat air mandian 'nasibi' dan ia adalah yang paling buruk diantara keduanya. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih buruk dari anjing dan sesungguhnya orang 'nasibi' adalah lebih hina di sisi Allah daripada anjing". (Furu' al-Kafi jilid 3 hal. 5)

Nasibi adalah gelaran yang diberikan mereka kepada Ahlus Sunnah kerana nasibi bermakna orang yang memusuhi Ahlul Bait di sisi Syi'ah. Orang pertama yang memusuhi Ahlul Bait di sisi Syi'ah adalah Abu Bakar as-Siddiq r.a. serta sahabat-sahabat r.a. dan golongan seterusnya yang memusuhi Ahlul Bait di sisi Syi'ah adalah Ahlus Sunnah. Ini kerana Ahlus Sunnah tidak mempercayai serta menganggap Ahlul Bait sebagaimana pegangan mereka.

Hakikat sebenar ajaran Syi'ah.

Kalau diperhatikan kepada ajaran Syi'ah semua ajaran mereka dihubungkan kepada imam-imam Ahlul Bait. Persoalannya apakah benar ajaran mereka berasal dari imam-imam tersebut atau ianya hanyalah tempelan sahaja? Untuk mengetahui hakikat sebenarnya ajaran mereka marilah kita meneliti sejenak apa yang terkandung dalam kitab-kitab mereka sendiri daripada mulut imam-imam mereka sendiri.

أبوخالد الكابلي سمعت علي بن الحسين عليه السلام يقول: ان اليهود أحبوا عزيزا حتى قالوا فيه ماقالوا فلا عزيز منهم ولاهم من عزيز، وأن النصارى أحبوا عيسى حتى قالوا فيه ماقالوا، فلا عيسى منهم ولاهم من عيسى. وانا على سنة من ذلك ان قوما من شيعتنا سيحبونا حتى يقولوا فينا ماقالت اليهود في عزيز، وماقالت النصارى في عيسى بن مريم، فلاهم منا ولا نحن منهم.(رجال الكشى ج2 ص120)

Abu Khalid al-Kabuli berkata, "Aku mendengar Ali (Zainul Abidin) bin al-Husain a.s. berkata: "Sesungguhnya Yahudi mencintai 'Uzair sehingga mereka telah mengatakan sebagaimana yang mereka katakan terhadapnya sedangkan 'Uzair tiada hubungan dengan mereka dan mereka juga tiada hubungan dengan 'Uzair. Sesungguhnya Nasara mencintai Isa sehingga mereka telah mengatakan sebagaimana yang mereka katakan terhadapnya sedangkan Isa tiada hubungan dengan mereka dan mereka juga tiada hubungan dengan Isa. Sesungguhnya kami seperti mana mereka juga, sesungguhnya satu kaum dari kalangan Syi'ah kami mencintai kami sehingga mereka mengatakan berkenaan kami sebagaimana yang dikatakan oleh Yahudi kepada 'Uzair dan sebagaimana yang dikatakan oleh Nasara kepada Isa bin Maryam, mereka tiada hubungan dengan kami dan kami tiada hubungan dengan mereka". (Rijal Kasyi juz 2 hal 120).

قال أبوعبدالله عليه السلام ما أنزل الله سبحانه آية في المنافقين الا وهي فيمن ينتحل التشيع

Abu Abdillah a.s. berkata: "Tidaklah Allah menurunkan berkenaan munafikin kecuali ianya bertepatan dengan orang yang mendakwa Syi'ah". (Rijal Kasyi juz 2 hal. 589)

Demikianlah dengan serba ringkasnya dibentangkan aqidah-aqidah Syi’ah dari kitab-kitab muktabar mereka. Semoga keterangan-keterangan yang diberikan memberi manfa’at kepada kita semua dan semoga Allah sentiasa membimbing kita di jalan yang lurus Amin ya Rabbal 'Alamin.


_____________

(Arshavin menukil dari http://abunaaielah.blogspot.com )

Geoglobe

Geocounter

Youtube video

Loading...

About Me

My photo
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما العلم بالتعلم ( حديث حسن، انظر : صحيح الجميع ، للأ لبانى ) " Sesungguhnya 'ilmu itu,-hanya bisa diperoleh- dengan BELAJAR "