Saturday, October 25, 2008

Nasihat untuk Muslimah

Kategori: Wanita (Niswah)
***

Semoga kedamaian, kesejahteraan senantiasa Allah Subhanahu wa Ta'ala limpahkan untukmu serta rahmat dan berkah-Nya selalu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyanjung para muslimah, mukminah dan para wanita yang sabar nan khusu’ . Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati mereka bahwa mereka adalah wanita-wanita itu yang menjaga diri disaat sang suami keluar sesuai dengan tuntutan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan tatkala Allah l menyebut sifat-sifat orang-orang yang shalih, Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguh nya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain.” (Ali Imran: 195)

Sehubungan dengan bulan (yang mulia) ini (kitab kecil ini ditulis untuk menyambut bulan Ramadlan).. aku hadiahkan padamu wahai pemudi Islam dan wahai hamba Allah (hadiah) berupa pemberian ucapan selamat dengan munculnya bulan yang mulia ini. Seraya mohon untukku dan untukmu ampunan dan taubat yang tulus. Dan terimalah sepercik nasehat dari kami yang aku sajikan dalam sepuluh point:

Pertama: Wanita Muslimah senantiasa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Rabbnya, percaya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai Nabinya, dan percaya Islam sebagai agamanya. Dan tampak wujud iman itu dalam perkataan, amalan dan I’tiqad. Dia senantiasa waspada, menjauhi murka Allah dan takut pada kepedihan adzab-Nya serta menjauhi apa-apa yang menyelisihi perintah-Nya.

Kedua: Wanita Muslimah senantiasa menjaga shalat lima waktu dengan wudhunya dan khusu’nya serta memperhatikan waktunya. Kesibukan tertentu tidak menjadikan shalat terabaikan. Kesenangan tertentu tidak sampai melalaikan ibadah. Sehingga tampaklah padanya dampak dari penghayatan shalat. Karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan shalat juga merupakan benteng yang besar dari kemaksiatan.

Ketiga: Wanita Muslimah senantiasa menjaga dan memelihara hijab. Merasa senang hati dan mulia dengan busana muslimah itu. Dia tidak keluar kecuali selalu menutup auratnya dan memohon perlindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dia bersyukur kepadaNya atas kemulian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hijab tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjaga dan menginginkan kesucian dirinya. Allah berfirman:

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuhnya”. (al-Ahzab: 59)

Keempat: Wanita Muslimah senantiasa bersemangat untuk menjalankan ketaatan pada suaminya, bersikap lemah lembut terhadapnya, menyayanginya, dan mendorongnya kepada kebaikan, memberi nasehat kepadanya dan menjadikan sang suami bisa beristirahat. Dia tidak meninggikan suara terhadapnya dan tidak menyakiti dalam kata-kata.

Telah tersebut di dalam riwayat yang shahih bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadlan dan taat pada suaminya niscaya dia masuk surga Rabbnya. (HR. Ahmad dan Thabarani).

Kelima: Wanita Muslimah senantiasa mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengajarkan pada mereka aqidah yang benar, menanamkan pada hati mereka kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan pada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam, serta menjauhkan mereka dari kemaksiatan dan akhlaq yang tercela. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim:6)

Keenam: Wanita Muslimah tidak bersepi-sepi dengan laki-laki asing (bukan mahram). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Tidaklah seorang perempuan bersepi-sepi dengan seorang laki-laki kecuali setan menjadi yang ketiganya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim)

Sehingga dia tidak bepergian tanpa mahram, dan tidak mendatangi pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali dalam kondisi mendesak sambil memakai hijab, terselimuti dan rapi tertutup.

Ketujuh: Wanita Muslimah tidak menyerupai laki-laki pada perkara yang khusus bagi laki-laki. Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

Allah melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. (Hadits shahih).

Dan jangan sampai menyerupai perempuan-perempuan kafir pada ciri khas mereka dalam hal pakaian, gerak-gerik, dan tingkah laku, dan lainnya. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam

Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka. (HSR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)

Kedelapan: Wanita Muslimah sebagai seorang da’i yang menyeru menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala di barisan perempuan dengan bahasa yang baik, dengan berkunjung ketetangga, dengan menelpon saudari-saudarinya, dengan kitab-kitab kecil dan kaset-kaset Islami. Dia juga melakukan apa yang ia katakan, dan giat untuk menyelamatkan diri dan saudarinya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

Sesungguhnya bila Allah memberikan hidayah kepada satu orang lantaran anda, itu lebih baik bagi anda daripada harta yang termahal. (HSR. Bukhari dan Muslim).

Kesembilan: Wanita Muslimah senantiasa menjaga hatinya dari perkara syubhat (yang samar) dan syahwat serta menjaga matanya dari perkara yang haram. Menjaga telinganya dari musik, perkataan cabul/jorok dan dosa. Menjaga anggota tubuh seluruhnya dari penyimpangan. Dan mengetahui bahwa yang demikian ini adalah taqwa. Sabda Rasulullah (yang artinya):
Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya dia akan menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya dan (menjaga) perut dan apa yang dimuatnya. Dan barangsiapa yang mengingat kematian dan kebinasaan, dia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim).

Kesepuluh: Wanita Muslimah memelihara waktunya agar tidak terbuang sia-sia, menjaga siang hari atau malamnya agar tidak berantakan. Dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), ataupun mencaci, dan hal-hal yang tidak berguna lainnya. Allah berfirman (yang artinya):
Dan jauhilah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau dan mereka telah terpedaya dengan kehidupan dunia. (Al-An’am:70)

Allah Ta’ala berfirman tentang kaum yang menyia-nyiakan umurnya, bahwa mereka akan berkata:

Betapa ruginya kami karena apa-apa yang telah kami lalaikan di dalamnya (dunia) (Al-An’am: 31)

Ya Allah... berikan petunjuk kepada pemuda-pemudi Islam menuju apa yang Engkau cintai dan ridhai, dan isilah hati mereka dengan iman. Mudah-mudahan shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

***

(Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th.IV/1421-2000)

Menyatukan Hari Raya

Kategori: Fiqh
***

Perselisihan dalam menentukan hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha menjadi sebuah fenomena yang sering kali terjadi di kalangan kaum Muslimin. Seakan-akan makna “al-`id” yang seharusnya sesuatu yang berulang dengan penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah menjadi sebuah permasalahan yang berulang-ulang tiap tahunnya dengan perselisihan dan pertengkaran.

Sebagai seorang muslim, tidak ada jalan lain kecuali beramal di atas bashirah dan ilmu yang akan menerangi jalan untuknya menuju keridhaan Allah. Maka dalam pembahasan masalah ini, penulis berusaha untuk memberikan pemahaman tentang sebab terjadinya perselisihan, dan kiat yang tepat dalam bersikap, sehingga kita terlepas dari jeratan pertikaian dan termasuk orang yang berpegang teguh dengan tali Allah. Semoga Allah memberi taufiq kebenaran kepada penulis, sehingga dijauhkan dari kesalahan dalam penulisan dan pemahaman.

MENGAPA BERSELISIH DALAM MENENTUKAN HARI RAYA?

Perselisihan ini, tidak hanya terjadi di kalangan para ulama sebelumnya dalam permasalahan ijtihad, akan tetapi diperparah lagi dengan masuknya orang-orang yang tidak mengetahui agama (munafik), atau orang yang cenderung mengikuti akalnya sendiri,1 masuk ke dalam kancah permasalahan ini sehingga semakin memperkeruh masalah.

Perselisihan yang terjadi dalam menentukan ke dua hari raya ini, dapat kita bagi dalam beberapa permasalahan.
Pertama. Adanya silang pendapat dalam cara menentukan hari raya, dengan hisab ataukah ru’yah hilal.
Kedua. Adanya perbedaan pendapat yang menyangkut mathla` hilal pada setiap negeri atau tidak. Dalam arti, jika misalnya terlihat hilal di Arab Saudi, wajibkah semua umat Islam untuk berpuasa atau berbuka? Ataukah setiap negeri berhukum dengan mathla`nya sendiri-sendiri?
Ketiga. Mensikapi keputusan pemerintah dalam menentukan jatuhnya hari raya. Sebagian yang tidak sependapat dengan pemerintah mengambil tindakan yang dianggapnya benar. Dan sebagian lagi, dalam melihat ru’yah hilal, berkiblat kepada negara lain, dan begitu seterusnya sehingga terjadilah kekacauan dan perselisihan di mana-mana.

RU’YAH ATAU HISAB?

Ada dua catatan penting menanggapi permasalahan di atas.
Pertama. Menggunakan hisab untuk membuat sebuah hukum dalam syari’at dan meninggalkan ru’yah hilal, ditakutkan terkena ancaman dari ayat Allah, yaitu orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kebenaran, dan juga jatuh ke dalam takwil Rasulullah bahwa umat Islam akan mengikuti perjalanan (tasyabbuh) kepada umat terdahulu, baik secara disengaja ataupun tidak.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Telah sampai kepada saya, bahwa syari’at sebelum kita juga mengaitkan hukum dengan hilal. Kemudian terjadi perubahan karena ulah tangan-tangan jahil dari para pengikut syari’at itu sendiri, sebagaimana telah diperbuat oleh Yahudi dalam bertemunya dua bujur, serta menjadikan sebagian hari raya mereka dengan menggunakan tahun Masehi. Begitu juga yang dilakukan kaum Nashrani dalam berpuasa, dengan memperhatikan bertemunya dua bujur di awal tahun Masehi, serta menjadikan semua hari raya mereka dengan menggunakan penanggalan tahun Masehi, sesuai dengan kejadian yang dialami Al Masih. Begitu juga dengan kaum Shabi`ah, Majusi dan dari kalangan kaum musyrikin lainnya dalam penggunaan ishthilah (penanggalan). Adapun yang dibawa oleh syari’at kita merupakan hal yang paling baik, apik, jelas, tepat dan jauh dari pertentangan”.2
Kedua. Pembahasan penentuan hari raya dengan menggunakan ru’yah sudah bersifat final, setelah adanya Ijma` selama tiga abad secara berturut-turut. Sehingga tidak ada jalan untuk berijtihad setelah terjadinya Ijma`, sebagaimana yang telah diterangkan dalam ushul syari’ah.

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: “Sebagaimana telah kita ketahui dari agama Islam, bahwa menggunakan hisab untuk menentukan sesuatu dengan cara melihat hilal, seperti: puasa, haji, iddah, ila` atau lainnya, yang menyangkut permasalahan hukum dengan hilal, tidaklah dibenarkan. Nash-nash dari Nabi tentang hal ini sangatlah banyak. Dan kaum muslimin telah Ijma` (sepakat) dengan permasalahan tersebut. Sama sekali tidak diketahui adanya perselisihan lama ataupun perselisihan baru, kecuali setelah abad ketiga, yakni oleh sebagian mutaakhirin dari kalangan ahli fiqih gadungan yang belum matang.3 Yaitu dengan pernyataan “jika hilal terhalangi awan, maka ahli hisab diperbolehkan menggunakan hisab untuk dirinya sendiri. Jika hisab (tersebut) menunjukkan ru’yah, maka dia boleh berpuasa. Jika tidak menunjukkan hilal, maka tidak boleh”. Pendapat ini telah didahului oleh Ijma` yang mengingkarinya, meskipun hanya berlaku untuk cuaca mendung dan dikhususkan untuk orang yang mengetahui ilmu hisab itu sendiri. Akan tetapi, mengikuti hisab ketika cuaca cerah, atau menggantungkan hukum untuk kalangan umum dengan hisab, maka tidak seorang muslimpun pernah mengatakannya.”4

Ketika Lajnah Da-imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta`, Arab Saudi, ditanya tentang hal serupa, mereka menjawab: “Sesungguhnya Allah mengetahui yang telah dan yang akan terjadi tentang perkembangan ilmu falak dan ilmu pengetahuan lainnya. Sekalipun begitu, Allah berfirman,’Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan tersebut, maka hendaklah berpuasa’ (QS Al Baqarah:185). Dan RasulNya menerangkan lebih jelas dengan sabda Beliau :

Berpuasalah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah dengan melihatnya. (Hadits)5. Maka, Beliau mengaitkan mulainya puasa bulan Ramadhan dan berakhirnya Ramadhan, yaitu dengan melihat hilal dan tidak mengkaitkannya dengan hisab bintang-bintang. Sekalipun dia mengetahui bahwa ilmu falak akan berkembang dengan hisab bintang dan menentukan perjalanannya. Oleh karena itu, kaum muslimin wajib kembali kepada syari’at Allah melalui lisan NabiNya, dengan menggunakan ru’yah hilal dalam berpuasa dan berhari raya. Dan ini merupakan Ijma` dari ahli ilmu. Barangsiapa yang menyelisihinya dan menggunakan hisab bintang-bintang, maka pendapatnya aneh dan tidak dapat digunakan”. (Tertanda, Ketua: Abdul Aziz, Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Qu`ud).6

(Majalah As-Sunnah edisi 07 Tahun VIII/1425H/2004M)

1) Lihat Majmu` Fatawa (25/128-130).
2) Majmu` Fatawa (25/135).
3)Sebagian menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Syuraih, Mutharif bin Abdullah dan Ibnu Qutaibah. Nisbat kepada kepada Ibnu Syuraih dan Abdullah ini tidak benar. Adapun Ibnu Qutaibah, pendapatnya dalam masalah ini tidak perlu ditanggapi. Lihat Nailul Authar (4/502), Dar Ash Shumai`i; Tharhut Tatsrib, Al Iraqi (2/2-112).
4) Majmu` Fatawa (25/132-133).
5) HR Muslim, Kitab Shiyam, Bab Wujub Shaumi Ramadhan Li Ru’yatil Hilal, Syarah Muslim (3/134,135).
6) Fatawa Ramadhan (1/118-119).
***
(arshavin08 menukil dari http://bukhari.or.id/content/view/162/9/, ditulis oleh: Armen Halim Naro )

BERHARI RAYA DENGAN PEMERINTAH

Kategori: Fiqh
***

FATWA-FATWA SEPUTAR BERHARI RAYA DENGAN PEMERINTAH

1.Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam ditanya tentang sebagian penduduk sebuah kota melihat hilal Dzul Hijjah. Tetapi tidak diakui oleh pemerintah kota. Apakah mereka berpuasa yang zhahirnya tanggal 9 (Dzul Hijjah), padahal yang sebenarnya 10 (Dzul Hijjah)?

Syaikhul Islam menjawab: Benar. Mereka harus berpuasa pada (tanggal) 9 yang secara zhahir diketahui mereka, sekalipun hakikatnya pada (hari tersebut) adalah 10 (Dzul Hijjah), jika memang ru’yah mereka benar. Sesungguhnya di dalam Sunan (disebutkan) dari Abu Hurairah, dari Nabi, Beliau bersabda:

Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih.1
(Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishahihkannya).

Dari Aisyah radhiallahu'anha , beliau berkata: Rasulullah telah bersabda,”(Idul) Fitri, (yaitu) ketika semua manusia berbuka. Dan Idul Adha, (yaitu) ketika semua orang menyembelih”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi).

Dan perbuatan ini yang berlaku di semua kalangan para imam kaum Muslimin.2

Dalam permasalahan puasa, Syaikh Al Bani rahimahullah berkata: Saya berpendapat bahwa masyarakat di setiap negeri berpuasa dengan pemerintahnya, tidak berpecah-belah, sebagian berpuasa dengan negaranya dan sebagian (lainnya) berpuasa dengan negara lain -baik puasanya tersebut mendahului yang lainnya atau terlambat- karena akan memperluas perselisihan di masyarakat, sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab. Wallahul musta`an”.3

Menurut penulis, jika dalam permasalahan puasa Syaikh menyerukan untuk berpuasa dengan pemerintah, maka tentu berhari raya lebih dianjurkan lagi.

2.Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: Saya dari Asia Tenggara. Tahun Hijriah kami terlambat satu hari dibandingkan dengan Kerajaan Arab Saudi. Dan kami -para mahasiswa- akan bersafar pada bulan Ramadhan tahun ini. Rasulullah bersabda,”Puasalah kalian dengan melihatnya (hilal, Pen) dan berbukalah kalian dengan melihatnya...” sampai akhir hadits. Kami telah memulai puasa di Kerajaan Arab Saudi, kemudian akan bersafar ke negara kami pada bulan Ramadhan. Dan di penghujung Ramadhan, puasa kami menjadi 31 hari. Pertanyaan kami, bagaimana hukum puasa kami dan berapa hari kami harus berpuasa?

Beliau (Syaikh) menjawab: Jika Anda berpuasa di Saudi atau di tempat lainnya, kemudian sisanya berpuasa di negara Anda, maka berbukalah bersama mereka (yaitu berhari rayalah bersama mereka, Pen), sekalipun berlebih dari tiga puluh hari. (Ini) sesuai dengan sabda Rasulullah:

“Puasa adalah hari semua kalian berpuasa. Dan berbuka adalah ketika semua kalian berbuka”.

Akan tetapi, jika tidak sampai 29 hari, maka hendaklah disempurnakan, karena bulan tidak akan kurang dari 29 hari. Wallahu waliyyut taufiq.4

Beliau juga ditanya: Jika telah pasti masuk bulan Ramadhan di salah satu negara Islam, seperti Kerajaan Arab Saudi, dan selanjutnya negara tersebut mengumumkannya, akan tetapi di negera yang saya tempati belum diumumkan masuknya bulan Ramadhan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami berpuasa cukup dengan terlihatnya di Saudi? Atau kami berbuka dan berpuasa dengan mereka (negara saya, Red.), ketika mereka mengumumkan masuknya bulan Ramadhan? Begitu juga dengan permasalahan masuknya bulan Syawwal, yaitu hari `Id. Bagaimana hukumnya, jika dua negara berselisih. Semoga Allah membalas dengan sebaik balasan dari kami dan dari kaum Muslimin?

Beliau (Syaikh) menjawab: Setiap Muslim, hendaklah berpuasa bersama dengan negara tempat ia tinggal, dan berbuka dengannya, sesuai sabda Nabi : “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih”. Wa billahit taufiq.5

3.Fatwa Syaikh Shalih Al Fawzan hafizhahullah.

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah ditanya: Jika telah pasti masuknya bulan Ramadhan di suatu negara Islam, seperti Kerajaan Arab Saudi, sedangkan di negara lain belum diumumkan tentang masuknya, bagaimana hukumnya? Apakah kami berpuasa dengan kerajaan? Bagaimana permasalahan ini, jika terjadi perbedaan pada dua negara?

Beliau Syaikh menjawab: Setiap Muslim berpuasa dan berbuka bersama dengan kaum Muslimin yang ada di negaranya. Hendaklah kaum Muslimin memperhatikan ru’yah hilal di negara tempat mereka tinggal di sana, dan agar tidak berpuasa dengan ru’yah negara yang jauh dari negara mereka, karena mathla` berbeda-beda. Jika misalkan sebagian Muslimin berada di negara yang bukan Islam dan di sekitar mereka tidak ada yang memperhatikan ru’yah hilal -maka dalam hal ini- tidak mengapa mereka berpuasa dengan kerajaan Arab Saudi.6

4.Fatwa Lajnah Da-imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta` (Komite Fatwa Arab Saudi).

Lajnah Da-imah lil Buhuts Ilmiah wal-Ifta’ ditanya: Bagaimana pendapat Islam tentang perselisihan hari raya kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adh-ha? Perlu diketahui, hal ini dapat menyebabkan berpuasa pada hari yang diharamkan berpuasa, yaitu hari raya Idul Fithri atau berbuka pada hari diwajibkan berpuasa? Kami mengharapkan jawaban tuntas tentang permasalahan yang penting ini, yang dapat kami jadikan alasan di hadapan Allah. Jika terjadi perselisihan, kemungkinan bisa dua hari, (atau) kemungkinan tiga hari. Seandainya Islam menolak perselisihan, bagaimana jalan yang benar untuk menyatukan hari raya kaum Muslimin?

Dijawab: Para ulama sepakat bahwa mathla` hilal berbeda-beda. Dan hal itu diketahui secara panca indera dan akal. Akan tetapi mereka berselisih dalam memberlakukan atau tidaknya dalam memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya. Ada dua pendapat. (Pertama), diantara imam fiqih berpendapat, bahwa berbedanya mathla` berlaku dalam menentukan permulaan puasa dan penghabisannya. (Kedua), diantara mereka tidak memberlakukannya, dan setiap kelompok berdalil dengan Kitab, Sunnah serta Qias. Dankadang-kadang, kedua kelompok berdalil dengan satu nash, karena ada persamaan dalam beristidlal (berdalil), seperti firman Allah Ta`ala: Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan, maka berpuasalah. (QS Al Baqarah:185). FirmanNya: Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah: “Sesungguhnya ia adalah penentu waktu bagi manusia. (QS Al Baqarah:189). Dan sabda Nabi: Berpuasalah kalian dengan melihatnya, dan berbukalah dengan melihatnya. (Hadits).

Itu semua karena perbedaan mereka dalam memahami nash dan dalam mengambil istidlal dengannya.

Kesimpulannya, permasalahan yang ditanyakan masuk ke dalam wilayah Ijtihad. Oleh karenanya, para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada malam ketiga puluh, untuk mengambil hilal yang bukan mathla` mereka, jika kiranya mereka benar-benar telah melihatnya. Jika sesama mereka masih berselisih juga, maka hendaklah mereka mengambil keputusan pemerintah negaranya -jika seandainya pemerintahan mereka Muslim. Karena, keputusannya dengan mengambil salah satu dari dua pendapat, akan mengangkat perselisihan. Dalam hal ini umat wajib mengamalkannya. Dan jika pemerintahannya tidak Muslim, maka mereka mengambil pendapat Majlis Islamic Center yang ada di negara mereka, untuk menjaga persatuan dalam berpuasa Ramadhan dan shalat Id. Semoga Allah memberi taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya. (Tertanda, Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani`).7


PEMERINTAH DAN PENENTUAN HARI RAYA

Dalam menentukan hari raya, Pemerintah tidak lepas dari dua hal. Yaitu, keputusannya sesuai dengan syari’at, dan keputusannya yang tidak sesuai dengan tuntunan syari’at, dengan penjelasanya sebagai berikut:

Pertama.

Jika keputusan dalam menentukan hari raya telah sesuai dengan syari’at, yaitu menggunakan ru’yah hilal, atau menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan tatkala hilal tertutup awan, maka dalam hal ini tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk keluar dan membangkang terhadap orang yang telah Allah jadikan sebagai waliyyu amril mukminin.

Permasalahan: Jika seseorang melihat hilal sendirian, apakah dia boleh berbuka dan berhari raya sendiri?

Jawab: Dalam hal ini, para ulama mempunyai dua pendapat yang masyhur.
- Dia tidak dibenarkan berbuka. Tetapi, hendaklah dia berbuka dan berpuasa dengan kaum Muslimin. Demikian ini adalah madzhab jumhur Ulama (Hanafiyah8, Malikiyah9 dan Hanabilah10 ), dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata: “Dan demikian ini adalah pendapat yang terkuat, sesuai dengan sabda Nabi “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih”.
Dalam mensyarah hadits di atas, Tirmidzi berkata: “Sebagian Ahli Ilmu menafsirkan hadits ini; mereka mengatakan, berpuasa dan berbuka bersama jama’ah11”.
- Dia dibenarkan untuk berbuka secara sembunyi. Demikian ini madzhab Syafi`iyyah12, sebagian Hanafiyah dan Hanabilah.
Dr. Ahmad Muwafi berkata: Sebenarnya pendapat Syafi’iyyah dalam bab ini cukup kuat; karena berpuasa dan berbuka berkaitan dengan ru’yah, dan dia telah yakin melihat hilal Syawwal. Dan ini cukup baginya untuk tidak berpuasa. Bagaimana dia dituntut untuk berpuasa, padahal dia yakin bahwa ia telah keluar dari puasa wajib? Ini tidak bertentangan dengan hadits “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih”. Karena tujuan akhir dari hadits tersebut, ialah menganjurkan kepada kaum Muslimin yang telah melihat hilal sendirian dan tidak terlihat oleh yang lainnya. Kalau tidak, dia sembunyikan puasanya dengan selalu menampakkan apa yang dilakukan oleh jama’ah, atau dia dianjurkan berpuasa, untuk mensepakati jama’ah kaum Muslimin, dan berbuka ketika kalian semua berbuka. Karena tidak mungkin dia berbuka sebelum yang lain dan berhari raya sendirian, bukan berarti wajib baginya puasa. Wallahu Ta`ala a`lam.13

Kedua.

Jika pemerintah membuat keputusan yang salah dalam menentukan hari raya, misalnya dengan menggunakan hisab, atau mengikuti penanggalan di kalender, atau dengan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at, maka –wallahu a`lam- tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berhari raya sendiri-sendiri. Mereka tetap diharuskan untuk berhari raya bersama kebanyakan kaum Muslimin, dalam hal ini bersama pemerintah; demi menjaga persatuan dan tidak jatuh ke dalam jurang perpecahan. Sesuai dengan sabda Rasulullah: “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih”.

Ash Shan`ani, ketika mensyarah hadits ini berkata: “Dalam hadits ini, dalil yang menetapkan hari raya sesuai dengan (kebanyakan) manusia, karena orang yang sendirian mengetahui hari raya dengan ru’yah, wajib baginya untuk mengikuti orang lain dan diharuskan shalat, berbuka dan kurban bersama dengan mereka”.14

Dari Abu Umair bin Anas dan paman-pamannya dari kalangan kaum Anshar radhiallahu'anhum jami'an berkata: “Awan menutupi kami pada hilal Syawal. Maka pagi tersebut kami berpuasa. (Kemudian) datanglah kafilah pada sore harinya. Mereka bersaksi kepada Rasulullah, bahwa kemarin mereka melihat hilal. Maka Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk berbuka saat itu juga, dan keluar besok paginya untuk shalat Id”.15

Asy Syaukani menyebutkan, diperbolehkan shalat `Id pada hari kedua. Tidak ada perbedaan antara adanya keraguan dan yang lainnya karena udzur, baik karena ragu atau alasan lainnya, dengan mengqiaskan dengannya.16

Lebih tegas lagi Syaikhul Islam menyebutkan: Jika dikatakan “bisa saja pemerintah yang diserahi untuk menetapkan hilal lalai, karena menolak persaksian orang-orang yang terpercaya. Bisa saja karena kelalaian dalam meneliti amanah mereka. Bisa saja persaksian mereka ditolak, karena adanya permusuhan antara pemerintah dengan mereka. Atau sebab-sebab yang lain yang tidak disyari’atkan. Atau karena pemerintah bersandarkan dengan perkataan ahli nujum yang menyatakan melihat hilal”.

Maka dikatakan (kepada mereka): Hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah (dengan cara apapun, Pen), tidak akan berbeda dengan orang yang mengikuti pemerintah dengan melihat ru’yah hilal; baik sebagai mujtahid yang benar atau (mujtahid) yang salah atau lalai. Sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih, bahwa Nabi bersabda tentang para penguasa: “Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka”. Jadi, kesalahan dan kelalaian pemerintah, tidak ditanggung kaum Muslimin yang tidak melakukan kelalaian atau kesalahan.17 Wallahu a`lam.

(Majalah As-Sunnah edisi 07 Tahun VIII/1425H/2004M)

1) HR Tirimizi, Bab Ma Ja-a Annal Fithra Yauma Tafthurun…), Sunan dengan Tuhfah (3/382, 383).
2) Majmu` Fatawa (25/202).
3) Tamamul Minnah, hlm. 398).
4) Fatawa Ramadhan (1/145).
5) Fatawa Ramadhan (1/112).
6) Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan (3/124).
7) Fatawa Ramadhan (1/117).
8) Lihat Fat-hul Qadir bersama Hidayah (2/325).
9) Lihat Al Qawanin, Ibnu Jizzy (102).
10) Lihat Al Inshaf, Al Mardawi (3/278).
11) Lihat Sunan Tirmidzi bersama Tuhfah (3/383).
12) Lihat Majmu` Syarah Muhazzab, Nawawi (6/286).
13) Taisir Al Fiqh Al Jami` Lil Ikhtiaratil Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah (1/449-450).
14) Subulus Salam (2/134).
15) Hadits dengan lafadz ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab (Idza Lam Yakhrujil Imam Lil `Id…) no. 1.157.
16) Lihat Nailul Authar (2/295).
17) Majmu` Fatawa (25/206).

***
(arshavin08 menukilnya dari http://bukhari.or.id/content/view/163/9/)

Bahayanya Bid'ah

Kategori: Manhaj
***

Kesempurnaan Islam Tidak Butuh Penambahan

Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap. Islam mengatur berbagai sisi kehidupan manusia, mulai dari hal-hal besar seperti mengurus negara sampai hal-hal yang dianggap sebelah mata oleh manusia seperti tatacara buang hajat. Tidak hanya kaum muslimin saja yang mengakuinya, bahkan orang kafir pun mengakui kesempurnaaan Islam tersebut. Sungguh persaksian Allah bahwa bahwa Islam telah sempurna sebagai mana dalam surat Al Ma'idah sudah cukup bagi kita, dan sesuatu yang sempurna tidak memerlukan pengurangan ataupun penambahan sedikitpun. Bagaimana bisa sesuatu yang telah dibuat sempurna oleh Alloh masih ada yang bisa menyempurnakan lagi. Mengurangi ataupun menambah sesuatu maka mengkonsekuensikan kekurangnya. Simaklah baik-baik sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, "Tidaklah suatu amalan yang dapat memasukan seseorang ke surga dan menjauhkannya keneraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian semua." (Hadits Shohih. Diriwayatkan oleh At Thabrony dari sahabat Abu Dzar Al Ghifary)

Menambah Berarti Menganggap Islam Tidak Sempurna

Seorang yang tidak puas dengan syariat Islam dan ingin menambah-nambah dengan hal yang baru maka sengaja maupun tidak sengaja menyatakan bahwa Islam tidak sempurna! Saudaraku, itulah yang disebut dengan bid'ah. Ketahuilah para ulama telah mendefinisikan bid'ah sebagai perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama, yang serupa dengan syariat akan tetapi tidak ada contoh sebelumnya dari para salaf, dan ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Para pembaca yang budiman, kiranya jelas kesesatan bid'ah didalam agama walaupun dengan dalih apapun. Hal ini telah jelas disabdakan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, "…Hati-hatilah kalian terhadap perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara baru itu bid'ah. Dan setiap kebid'ahan adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka." (HR. Baihaqy, An Nasai)

Pembaca sekalian, tidakkah engkau dengar alangkah bagusnya ucapan Imam Asy Syafi'i tatkala beliau berkomentar mengenai masalah bidah. Beliau mengatakan, "Barang siapa yang menganggap baik urusan-urusan baru, maka ia telah membuat syariat."

Akibat Buruk Perbuatan Bid'ah

Sungguh dampak perbuatan bidah ini begitu besar, diantaranya:

1. Amalnya Tertolak.

Rosululloh bersabda, "Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu amalan itu tertolak." (HR. Bukhori Muslim). Alangkah meruginya orang yang berbuat bid’ah. Ia menganggap amalnya itu dapat mengantarkannya ke surga, tapi hakikatnya ia telah menempuh jalan kesesatan yang menghantarkan ke dalam jurang neraka. Perhatikanlah firman Allah tentang orang yang paling merugi, "Yaitu orang-orang yang berbuat kesesatan tatkala hidup didunia sedangkan mereka mengira berbuat kebaikan." (Al Kahfi: 104)

2. Termasuk orang terlaknat.

Nabi sholallohu 'alaihi wa salam bersabda, "Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara yang baru (bid'ah) atau mendukung pelaku bid'ah maka akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan manusia semuanya." (HR. Bukhori dan Muslim)

3. Pelaku bid'ah tidak akan diterima taubatnya.

Nabi sholallohu 'alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya Allah mencegah pelaku bid'ah melakukan taubat." (HR. Thobrony, Baihaqi). Hal ini dikarenaka pelaku bid'ah tidak sadar bahwa dirinya telah berbuat dosa dengan perbuatan bid'ahnya bahkan menyangka telah berbuat amal yang saleh, maka menjadi terbaliklah baginya antara yang benar dan yang salah.

Kaum muslimin sekalian, mengingat begitu besar bahaya bid'ah maka menjadi kewajiban bagi kita untuk berhati-hati untuk tidak membuat cara-cara baru dalam beragama. Sungguh, jika kita mau melaksanakan apa yang sudah dicontohkan Nabi, niscaya cukup bagi kita. Semoga Alloh membersihkan amal kita dari noda-noda bid'ah dan memasukkan kita ke dalam orang-orang yang berbuat sholih.

***


( arshavin08 menukilnya dari http://bukhari.or.id/content/view/15/38/, yang ditulis oleh: Abu Abdillah Rudi)

Tarekat Sufiyah dan Agama Syiah, Saudara Kembar???

Kategori: Manhaj
***

Beberapa Kesamaan Tarekat Sufiyah dan Agama Syiah *1


Siapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu’ (Syi’ah), ia akan mendapatkan keduanya seperti pinang dibelah dua. Keduanya berasal dari sumber yang sama, dan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut, ialah:

Pertama. Kaum Syi’ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan seenak perutnya. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur‘ân) tersendiri, yang mereka sebut Mushaf Fathimah. Menurut keyakinan mereka, mushaf ini memiliki kelebihan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Al- Qur‘ân yang ada di tangan kaum muslimin.2 Mereka menganggap Muhammad diutus dengan tanzil, sedangkan Ali diutus dengan takwil.3

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menganggap memiliki ilmu hakikat. Sedangkan orang dari luar kalangan mereka, hanya baru sampai pada tingkat ilmu syariat. Mereka beranggapan, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan ilmu laduni kepada mereka, saat orang-orang selain mereka mesti menimba ilmu dengan susah payah dari para ulama. Bahkan salah seorang tokoh Sufi , yaitu al-Busthami sampai berkoar: “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya”.4 Demikian, persamaan antara Sufi dan Syi’ah dalam masalah ilmu kebatinan.

Kedua. Orang-orang Syi’ah mengkultuskan imam-imam mereka dan menempatkan imam-imam itu dengan kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat dan para rasul. Mereka mengatakan, para imam adalah katub pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit. Apabila para imam diangkat dari muka bumi -walaupun sekejap- maka bumi dan para penduduknya ini akan hancur.5

Khumaini, salah seorang tokoh besar Syi’ah berkata: “Di antara keyakinan madzhab (baca: agama) kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa diraih, sekalipun oleh para malaikat dan para rasul”.6

Bahkan orang-orang Syi’ah memberikan sifat ketuhanan kepada para imam itu, dan menganggap mereka mengetahui segala sesuatu, meski sekecil apapun di alam ini.

Sifat seperti ini pula yang disematkan orang-orang Sufi kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai wali. Katanya, “para wali” itu ikut berperan dalam pengaturan alam semesta ini, dan mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, orangorang Sufi membentuk suatu badan khusus yang terdiri dari para wali mereka. Tugas badan khusus ini adalah mengatur alam dan seisinya.

Dengan pernyataan ini, maka tidak tersisa lagi hak pengaturan alam semesta bagi Allah Ta’ala. Padahal, hanya milik Allah 'Azza wa Jalla hak untuk mencipta dan mengatur segala urusan. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Ketiga. Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi’ah dan Sufiyyah. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Dr. Abu al-’Ala’ al-’Afifi menjelaskan kronologi munculnya anggapan batil ini yang merasuki aqidah Islamiyyah dengan berkata : “Munculnya pembagian agama kepada syariat dan hakikat, ialah ketika ada pembagian agama menjadi zhahir dan batin. Pembagian seperti ini tidak dikenal oleh kaum muslimin generasi pertama. Pemikiran seperti ini muncul ketika Syiah mengatakan bahwa segala sesuatu memuat perkara yang zhahir dan batin. Al-Qur`ân pun demikian. Bahkan menurut anggapan mereka, setiap ayat dan kalimat Al-Qur`ân mengandung pengertian zhahir dan yang batin. Dan hal-hal yang batin ini tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali orang-orang khusus dari para hamba Allah, yang khusus dipilih untuk memperoleh keutamaan ini. Semua rahasia Al- Qur`ân akan terbuka untuk mereka. Oleh karena itu, mereka memiliki metode khusus dalam menafsirkan Al-Qur`an yang akhirnya melahirkan kumpulan-kumpulan takwil kebatinan terhadap nash-nash Al-Qur`an dan bisikan-bisikan khayalan mereka yang dikenal dengan istilah ilmu bathin. Menurut mereka, hasil penafsiran diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam kepada ‘Ali bin Abi Thâlib. Lantas diwariskan dari beliau kepada orang orang yang memiliki ilmu batin yang menamakan diri mereka dengan sebutan al-Waratsah (para ahli waris).

Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menempuh jalan takwil ini dalam memahami Al- Qur‘ân, dan banyak mengambil istilah yang dipakai oleh orang-orang Syi’ah. Dengan demikian, kita mengetahui hubungan yang begitu erat antara orang Syi‘ah dan orang Sufiyyah”.7

Keempat. Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan kepada makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syiah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun kuburan dan menjadikannya sebagai syiar mereka.8

Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya adalah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf mengelilinginya meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya. Bahkan kuburan Ma’rûf Al Kurkhi, seorang tokoh Sufi diyakini menjadi obat yang mujarab.9

Untuk mengetahui lebih mendetail mengenai hubungan erat antara golongan Syiah dan Tarekat Sufi, Dr. Kâmil Asy Syaiby telah membukukan sebuah kitab melalui pendekatan historis yang berjudul ash- Shilah Bainat Tashawwufi Wat Tasyayyu’.

Sisi persamaan antara Syiah dan Sufi tidak terbatas pada dimensi perkataan dan keyakinan saja. Akan tetapi juga merambah pada sepak terjang nyata yang dapat disaksikan lewat sejarah.

Kaum Syiah bahu-membahu dengan musuh (pasukan Mongol) untuk menghancurkan Daulah Islamiyyah ‘Abbasiyyah. Mereka kemudian menyebarkan ajaran zindîq dan ilhâd (kekufuran). Sampai pada akhirnya, Shalâhuddin al-Ayyubi Rahimahullaht berhasil menumpas salah satu dari kelompok mereka yaitu rejim al-’Ubaidiyyah yang berakar pada ajaran Majusi (penyembah api). Maka, kembalilah Daulah Islam ke pangkuan kaum muslimin.

Dan lagi, ketika kaum muslimin berusaha untuk membersihkan Daulah Islam dari para Salibis (kaum Nashara), orang syiah Rafidhah, Nashîr ath-Thûsi dan Ibnul ‘Alqami justru membantu pasukan Mongol untuk masuk ibukota Daulah Islamiyyah, Baghdad. Maka, timbullah kerusakan dan pembantaian kaum muslimin dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya.

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Musuh-musuh Islam, mereka berhasil masuk Baghdad karena bantuan dari kaum munafikin seperti kaum Isma’iliyyah dan Nushairiyyah (dari golongan Syiah pent). Mereka berhasil menguasai negeri Islam, menjadikan para wanita sebagai tawanan, merampas harta, menumpahkan darah dan kejadian memilukan lainnya. Ini dialami oleh kaum muslimin karena bantuan yang mereka berikan kepada musuh-musuh Islam…...10

Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Sufi. Setali tiga uang. Mereka juga banyak membantu musuh-musuh Islam untuk merebut negeri Islam dari tangan kaum muslimin. Sebagai contoh, ketika mereka membantu tentara Perancis untuk merebut kota Qairawân. Begitu pula, campur tangan mereka dalam mendukung pasukan Perancis menginjakkan kakinya di bumi negeri Aljazair. Bahkan salah seorang tokoh mereka, Syaikh Muhammad at-Tijâni, penerima amanat Ahmad At-Tijâni (pendiri golongan Tijâniyyah) untuk memegang tongkat kepemimpinan setelahnya, mengatakan pada tanggal 28 Dzulhijjah 1350 H : “Sesungguhnya wajib bagi kami untuk membantu tentara Perancis, yang kami cintai, baik secara materi, maknawi dan politis. Oleh karena itu, saya nyatakan di sini dengan penuh rasa bangga dan tanggung jawab bahwa kakek moyangku telah memilih jalan yang benar ketika mendukung pasukan Perancis sebelum mereka datang ke negeri kita, dan sebelum menjajah wilayah-wilayah kita”.?!

Masih banyak lagi peristiwa lain yang sangat merugikan kaum muslimin yang didukung baik dari kaum Syiah ataupun golongan Sufi. Ahli sejarah Islam, Ibnu Khaldûn Rahimahullah telah menyinggung perihal tersebut dalam tulisannya. Inilah beberapa titik persamaan Syiah dan Tarekat Sufiyyah sehingga jelaslah bagi kita bahwa mereka berasal dari sumber yang satu. Wallahul Musta’ân.

****

*1 Dikutip dari al-Jamâ’at Al Islâmiyyah Fi Dhauil Kitâbi Was Sunnah Bifahmi Salafil Ummah karya Syaikh Saliim bin Id al-Hilâli hlm. 115-127 , Dârul Atsariyyah Th. 1425H-2004M dengan ringkasan.
2 Ad-Dîn Baina Sâil Wal Mujîb karya Al-Hajj Mirza al-Hairi al-Ahqaqi hal 89
3 Firaq asy-Syîah hal 38
4 al-Futûhât al-Makkiyah 1/37
5 Kamâluddin Tamâmunni’mah Ibnu Babuyah al-Qummi 1/208
6 al-Hukûmah al-Islâmiyah 53
7 At-Tasawwuf Wats-Tsaurah Ar-Rûhiyyah Fil Islâm
8 Rasâil Ikhwân Ash Shafâ
9 Thabaqât as- Shûfiyyah, as-Sulami hal 85
10 Minhâjus Sunnah An-Nabawiyyah 1/10-11

***
( arshavin08 menukil dari http://bukhari.or.id/content/view/150/38/ )

Friday, October 24, 2008

Jual Beli Dengan Uang Muka

Kategori : Fiqh
***

Pertanyaan:
Benarkah jual beli dengan sistem panjar (uang muka/downpayment-DP)? Kemudian jika pembeli menggagalkan, halalkah mengambil uang panjar tersebut? Bagaimana jual beli yang benar?
Abdurrazzaq - Temanggung
0815xxxxxxx

Jawab:

Jual beli ini dikenal dalam bahasa fiqih dengan istilah ‘urbun.

Definisi terbaik untuk jual beli ini adalah apa yang telah disampaikan Ibnu Qudamah rahimahullahu, yaitu:
seseorang membeli barang kemudian membayarkan kepada penjual satu dirham atau semisalnya. Dengan syarat, bila pembeli jadi membelinya maka uang itu dihitung dari harga, dan jika tidak jadi membeliya maka itu menjadi milik penjual.

Tentang hukum jual-beli ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:

1. Mayoritas para ulama, satu riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang dikuatkan oleh Abul Khaththab rahimahullahu dari kalangan ulama Hambali dan Ibnu Qudamah rahimahullahu mengatakan bahwa itulah yang sesuai dengan qiyas. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Asy-Syaukani rahimahullahu. Mereka semua mengatakan bahwa jual beli ‘urbun sesuai dengan gambaran di atas, batal. Dengan argumen hadits yang berbunyi:
نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبُوْنِ
“Rasulullah melarang jual beli ‘urbun.”

2. ‘Umar ibnul Khaththab, Abdullah – putranya – radhiyallahu 'anhuma, Ibnu Sirin, Nafi’ bin Abdul Harits, Zaid bin Aslam rahimahumullah, satu riwayat yang lain dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang masyhur di kalangan ulama Hambali, mereka membolehkan jual beli sesuai gambaran di atas.

Dengan alasan:
 Bahwa hadits yang disebutkan di atas dha'if/lemah (1,Lihat keterangannya dibawah-).
 Karena penjual bisa jadi menanggung kerugian dengan sebab masa tunggu. Misalnya harga barangnya menjadi turun atau penjual kehilangan calon-calon pembeli. Semua risiko ini ditanggung penjual bila pembeli mengurungkan niatnya untuk membeli. Demikian pula pembeli berikutnya bisa menawar lebih murah setelah ditinggalkan oleh pembeli pertama.

Namun demikian dinasihatkan kepada para penjual, bilamana ia tidak menanggung kerugian apa-apa agar mengembalikan uang itu dalam rangka menjaga sikap wara’.

Atas dasar yang membolehkan jual beli ‘urbun, maka dikecualikan tiga keadaan:

1. Pada sesuatu yang disyaratkan secara syar’i harus kontan pada masing-masing barang yang dipertukarkan, yaitu barang-barang yang mengandung riba (lihat penjelasan tentang Riba di Asy Syariah edisi 28). Misalnya uang, seperti menukar uang real Saudi dengan real Yaman. Maka tidak boleh menerapkan sistem ‘urbun.

2. Sesuatu yang disyaratkan untuk diserahkan secara kontan dan penuh pada salah satu barang yang dipertukarkan, yaitu pada jual beli sistem SALAM (2). Di mana dipersyaratkan secara kontan memberikan uang secara penuh di muka. Maka tidak boleh diberlakukan sistem ‘urbun.

3. Pada kondisi penjual tidak memiliki barang yang dijual, maka tidak boleh dengan sistem ‘urbun.
(diringkas oleh Qomar ZA, dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman Al-’Adani dalam kitabnya Syarhul Buyu’, hal. 36-37)

****
al-hawaamisy (Footnote)

1 Dianggap lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Dha'iful Jami’ Ash-Shaghir, Dha’if Abu Dawud, Dha’if Ibnu Majah, Misykatul Mashabih. Dikarenakan sanadnya tidak tersambung antara Al-Imam Malik rahimahullahu dengan ‘Amr bin Syu’aib. Yakni Al-Imam Malik rahimahullahu meriwayatkan dengan cara balaghan.

2 Sistem salam yaitu seseorang membeli suatu barang yang belum ada di tangan penjual namun ada dalam pikirannya. Maka pembeli dan penjual menyepakati barang yang dibeli dan sifat-sifatnya lalu pembeli menyerahkan uangnya di muka secara penuh. Dalam hal ini disyaratkan barangnya harus jelas, sifatnya jelas, jumlahnya jelas dan waktunya jelas.
***

( arshavin08 menukilnya dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=541 tulisan oleh ; Al-Ustadz Qomar ZA, Lc )

Penghargaan Islam Terhadap Wanita

Kategori : Wanita (Niswah)
***


Telah berulang-ulang kita singgung tentang penghargaan Islam terhadap kaum wanita. Namun masih saja ada permasalahan yang tertinggal, tak sempat diangkat karena keterbatasan yang ada. Karenanya tidak ada salahnya kita kembali berbicara tentang hal tersebut.

Beberapa bukti yang menunjukkan penghargaan terhadap wanita dalam Islam kita dapati dalam beberapa peristiwa di bawah ini:

1. Dikabulkannya jaminan perlindungan yang diberikan seorang wanita
Hal ini tampak dalam kisah Ummu Hani` bintu Abi Thalib radhiyallahu ‘anha ketika Fathu Makkah, saat ia memberikan perlindungan kepada mertuanya dan seorang lelaki dari kalangan kerabatnya, padahal dua orang ini telah diputuskan untuk dibunuh. Ummu Hani radhiyallahu ‘anha berkisah:

ذَهَبْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ الْفَتْحِ، فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ. قاَلَتْ: فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَنْ هذِهِ؟ فَقُلْتُ: أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ. فَقَالَ: مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ. فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ. فَلَمَّ انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، زَعَمَ ابْنُ أُمِّي أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ، فُلاَنَ ابْنَ هُبَيْرَةَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَدْ أََجَرْنَا مَنْ أََجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِىءٍ. قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: ذَاكَ ضُحًى.

“Aku pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun terjadinya Fathu Makkah. Aku dapati beliau sedang mandi dalam keadaan ditutupi kain oleh putri beliau Fathimah. Aku mengucapkan salam kepada beliau. “Siapa ini yang datang?” tanya beliau dari belakang kain yang menutupi beliau.

“Saya Ummu Hani` bintu Abi Thalib,” jawabku.
“Marhaban, Ummu` Hani!” sambut beliau.

Selesai dari mandinya, beliau mengerjakan shalat sunnah 8 rakaat dalam keadaan berselimut (1,-silahkan melihat referense nya dibawah-) dengan satu kain. Selesai dari shalatnya, aku berkata, “Wahai Rasulullah, anak ibuku (2) mengaku akan membunuh seseorang yang telah aku berikan jaminan perlindungan, yaitu Fulan putra Hubairah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kami memberikan perlindungan untuk orang yang engkau berikan perlindungan, wahai Ummu Hani.” Kata Ummu Hani, “Ketika itu waktu Dhuha.” (HR. Al-Bukhari no. 357 dan Muslim no. 1666)3


Begitu pula yang terjadi pada Zainab radhiyallahu ‘anha putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika suaminya yang belum berislam (4), Abul ‘Ash ibnur Rabi’, hendak ditawan oleh kaum muslimin di Madinah bersama dengan tawanan-tawanan lainnya dan hartanya dijadikan sebagai rampasan perang (5), si suami ini memohon jaminan keamanan dan perlindungan kepada Zainab.

Zainab pun menjanjikan kebaikan dan menanti hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menunaikan shalat Shubuh bersama kaum muslimin. Kemudian Zainab berdiri di pintu rumahnya dekat masjid seraya berseru dengan suara yang tinggi, “Sungguh aku telah memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada Abul ‘Ash ibnur Rabi’.” Mendengar seruan putrinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia! Apakah kalian mendengar apa yang telah aku dengar?”

Mereka menjawab, “Iya.”
Beliau lalu bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sebelumnya aku tidak mengetahui apa-apa hingga aku mendengar apa yang telah kalian dengar.” Kemudian beliau menyatakan, “Sungguh kami telah memberikan perlindungan kepada orang yang dilindungi oleh Zainab.”


Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah beliau, Zainab menyusul ayahnya dan memohon kepada beliau agar harta yang diambil dari Abul ‘Ash dikembalikan kepada Abul ‘Ash, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabulkan. Maka seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya tanpa berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah kepada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?”

Mereka menjawab, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Setelahnya Abul ‘Ash menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku menyatakan masuk Islam.”

Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah, hingga bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkannya kembali dengan istrinya Zainab dengan pernikahan yang awal6. (Siyar A’lamin Nubala` 1/333-334, Al-Ishabah 7/207-208)

2. Haram membunuh wanita dalam peperangan

Bila pasukan muslimin berperang dengan musuhnya maka diharamkan membunuh wanita, anak-anak, dan laki-laki yang sudah tua, terkecuali bila mereka turut serta dalam peperangan di barisan lawan. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan:
وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُوْلَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَأَنْكَرَ
“Didapatkan ada seorang wanita yang terbunuh dalam sebagian peperangan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.” Dalam satu riwayat: maka beliau mengingkarinya. (HR. Al-Bukhari no. 3014 dan Muslim no. 4523)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata,

“Ulama sepakat mengamalkan hadits ini dalam masalah tidak bolehnya membunuh wanita dan anak-anak bila mereka tidak turut berperang. Namun ulama berbeda pendapat bila mereka (wanita dan anak-anak ini) ikut berperang. Jumhur ulama secara keseluruhan berpendapat bila mereka ikut berperang maka mereka dibunuh.” (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 6/48)

Hanzhalah Al-Katib berkata,
“Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami melewati seorang wanita yang terbunuh yang tengah dikerumuni oleh manusia. Mengetahui hal itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا كَانَتْ هذِهِ تُقَاتِلُ فِيْمَنْ يُقَاتِلُ. ثُمَّ قَالَ لِرَجُلٍ: انْطَلِقْ إِلَى خَالِدٍ ابْنِ الْوَلِيْدِ فَقُلْ لَهُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُكَ، يَقُوْلُ: لاَ تَقْتُلَنَّ ذُرِّيَّةً وَلاَ عَسِيْفًا
“Wanita ini tidak turut berperang di antara orang-orang yang berperang.” Kemudian beliau berkata kepada seseorang, “Pergilah engkau menemui Khalid ibnul Walid7, katakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanmu agar jangan sekali-kali engkau membunuh anak-anak dan pekerja/orang upahan.” (HR. Ibnu Majah no. 2842, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 701)

3. Peringatan dari menyebarkan berita jelek berkenaan dengan seorang wanita muslimah yang menjaga kehormatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka yang menuduh itu sebanyak delapan puluh kali cambukan dan janganlah kalian menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 4)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hukuman 80 kali cambukan bagi orang yang menuduh seorang muslimah dengan tuduhan yang keji, sementara ia tidak bisa mendatangkan empat orang saksi. Tidak cukup sampai di situ. Orang tersebut tidak boleh lagi diterima persaksiannya selama-lamanya, kemudian ia disifati dengan kefasikan.

Tidak cukup sampai di situ hukuman yang diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memberikan ancaman yang lebih keras dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir berbuat keji lagi beriman dengan tuduhan zina, mereka akan terkena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nur: 23-24)

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha dituduh berzina oleh orang-orang munafik, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-ayat-Nya yang panjang dari atas langit ketujuh, yang terus dibaca sampai hari ini, untuk memberikan pembelaan kepada istri Nabi-Nya yang mulia, seorang wanita muslimah yang menjaga kehormatan dirinya.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لاَ تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ. لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ. لَوْلاَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ. إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمَ اللهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَيُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian bahkan ia adalah baik (akibatnya) bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata, ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata.’ Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong tersebut? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itu di sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian telah ditimpa azab yang besar karena pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikitpun dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah ucapan itu besar. Dan mengapa kalian tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kalian memang orang-orang yang beriman dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. Dan sekiranya bukan karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya atas kalian semua dan sungguh Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, niscaya kalian akan ditimpa azab yang besar.” (An-Nur: 11-20)


Ini adalah sepuluh ayat yang kesemuanya turun berkenaan dengan diri Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, sebagai pembelaan terhadap kehormatan dan kesucian dirinya dari ucapan yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka dan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cemburu. Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat-ayat ini sebagai pembelaan terhadap kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/379)


4. Wahyu turun menjawab pengaduan seorang wanita

Di antara wahyu yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang berisi jawaban terhadap pengaduan wanita. Bahkan turun surat yang khusus berbicara tentang pengaduan si wanita yang dinamakan surat Al-Mujadilah. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan:

تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعُهُ كُلَّ شَيْءٍ، إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهِيَ تَقُوْلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَكَلَ شَبَابِي وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبِرَتْ سِنِّي وَانْقَطَعَ وَلَدِي، ظَاهَرَ مِنِّي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُوا إِلَيْكَ. قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِهَؤُلَاءِ الْآيَاتِ: قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Maha Suci Zat yang pendengarannya mencapai segala sesuatu. Sungguh aku mendengar ucapannya Khaulah bintu Tsa’labah namun samar (tidak terdengar) bagiku sebagiannya.

Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, dia telah menghabiskan masa mudaku dan aku telah melahirkan banyak anak untuknya, hingga ketika usiaku telah tua dan aku tidak dapat melahirkan lagi, ia menzhiharku8. Ya Allah, aku mengadukan perkaraku kepadamu.’

Terus menerus Khaulah mengadu hingga datang Jibril membawa ayat ini:
قَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللهِ وَاللهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan halnya kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab di antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadilah: 1) [HR. Ibnu Majah no. 2063, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dengan syawahid-nya, lihat Irwa`ul Ghalil 7/175] (9)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap ayat pertama surah Al-Mujadilah ini menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan diri Khaulah bintu Tsa’labah, istri dari Aus ibnush Shamit. Khaulah memiliki tubuh yang bagus sementara suaminya agak sedikit mengalami gangguan jiwa.
Suatu ketika suaminya “menginginkannya” namun Khaulah menolak. Suaminya marah dengan berkata, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Namun kemudian suaminya menyesali apa yang diucapkannya, padahal zhihar dan ila` termasuk talak orang-orang jahiliah. Maka Aus berkata, “Tidaklah aku meyakini kecuali engkau telah haram bagiku.” Khaulah berkata, “Demi Allah, itu bukan talak.”

Khaulah pun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perkaranya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa ia telah haram bagi suaminya, Khaulah tidak menerimanya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Zat yang menurunkan Al-Qur`an kepadamu, ia tidak menyebut talak. Ia adalah ayah dari anakku dan ia adalah orang yang paling kucintai.” Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan ia haram bagi suaminya.

Maka Khaulah mengadukan perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terus demikian. Ia menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, aku mengadu kepadamu. Ya Allah, turunkanlah wahyu kepada Nabi-Mu yang memberikan kelapangan kepadaku.” (Ma’alimut Tanzil, 4/277)

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat-ayat-Nya menjawab pengaduan wanita yang shalihah ini. Semua ini jelas merupakan bukti kepedulian syariat yang mulia ini terhadap kaum wanita.


Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

****
al-hawaamisy (FootNote)

1.Dengan menyilangkan dua ujung kain di atas kedua pundak. (Al-Minhaj, 5/239)
Lihat pembahasan hal ini dalam rubrik Seputar Hukum Islam, dalam pembahasan Syarat-Syarat Shalat, sub judul Menutup Aurat.

2.Yaitu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam satu riwayat disebutkan, “anak ayahku”, dan ini yang shahih secara makna, karena Ali adalah saudara kandung Ummu Hani` (Fathul Bari, 1/609).
Ummu Hani menyebutkan “anak ibuku” untuk menekankan hubungan kemahraman, kedekatan dan kebersamaan mereka dalam satu rahim. Di samping juga karena seorang anak lebih banyak bersama ibunya. Ini sesuai dengan sebutan Harun q kepada Musa q dalam surah Thaha ayat 94:
قَالَ يَبْنَؤُمَّ لاَ تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي
“Wahai anak ibuku, janganlah engkau menarik jenggotku.” (Al-Minhaj, 5/239)

3 Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, “Sebagian pengikut mazhab kami dan jumhur ulama berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan diterimanya jaminan keamanan dari seorang wanita.” (Al-Minhaj, 5/239)

4 Dengan keislaman Zainab dan tetapnya suaminya dalam kekufuran, keduanya pun harus dipisahkan karena Zainab tidak halal bagi Abul ‘Ash yang masih kafir.

5 Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan 170 orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri. Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui Zainab untuk meminta perlindungan.

6 Tanpa memperbarui pernikahan mereka.

7 Karena wanita itu terbunuh oleh pasukan terdepan yang dipimpin oleh Khalid ibnul Walid radhiyallahu ‘anhu.

8 Dengan mengatakan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, suaminya ingin mengharamkan dirinya sebagaimana keharaman ibunya baginya.

9 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya secara mu’allaq

***
( arshavin08 menukilnya dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=693, ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Jamaah Tabligh, Siapakah Mereka?

Kategori : Manhaj

***


Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.
Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.
Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.


- Pendiri Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada.

Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

-Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan,

”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini.

Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)
Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah  (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).

-Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14)

Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah  melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah . (Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama’atit Tabligh, karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)

-Asas dan Landasan Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4).
Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)


Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At-Tablighiyyah, hal. 46).

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri

Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).

Sifat ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir

Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu.
Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim

Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat

Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala

Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta’lim setiap hari, majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid’ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)
Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)

-Aqidah Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya

Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah2:

1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).

2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur’an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa’ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).

8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).

9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).

10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).

11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.


-Fatwa Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

“Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.

2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizahullah berkata:

“Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu.

Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka.

Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.

3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata:

“Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.

4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.”

Beliau juga berkata:

“Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.


5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata:

“Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.
Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran.
Wallahu Al-Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwam Ath-Thariq.

***
( arshavin08 mengutip dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=15 yang ditulis oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Sistem Demokrasi: Sebuah Kupasan Dari Sudut Pandang Syari'at ( Part 1)

*** Kategori : Politik

Mukaddimah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon dan kepada-Nya kita meminta ampun. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dia tidak akan sesat. Barangsiapa yang tersesat, maka tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk kecuali hanya Dia. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah yang maha esa yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Surah Ali Imran, 3: 102)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Surah an-Nisaa’, 4: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah al-Ahzaab, 33: 70-71)

“Sesungguhnya, sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Shalallahu ‘alaihi wa Sallam). Manakala seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan semua yang diada-adakan adalah bid’ah. Semua yang bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempat kembalinya adalah neraka.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i)

Mungkin persoalan dan perbahasan berkenaan demokrasi ini adalah sebuah persoalan dan perbincangan yang agak kontroversi, memiliki pro dan kontra, menyentuh sensitiviti pihak-pihak tertentu, terutamanya bagi mereka yang mendokong baik perjuangan dan ideologi demokrasi tersebut.

Hakikatnya, tulisan ini bukanlah untuk ditujukan kepada mana-mana individu atau pihak-pihak tertentu, ia adalah sebagai satu tanggungjawab dan sebuah penulisan di atas penelitian penulis bagi tujuan memenuhi permintaan mereka yang mahu mengetahui serta memahami persoalan demokrasi dari perspektif Islam yang sebenar.

Semoga penulisan ini mampu memberi sedikit sebanyak gambaran berkaitan demokrasi dari sudut pandang Islam kepada mereka yang memerlukan. Sekaligus mampu mengubah kaedah berfikir dan daya analisa kita semua dalam mencari sebuah penilaian yang terbaik. Lantas, dengan harapan semoga ia dapat membantu memberi sumbangan dalam pembaikan terhadap kepelbagaian kecelaruan dan haru-biru yang berlaku terhadap ummah (masyarakat) masa ini.

1 - Memahami Demokrasi Dari Perspektifnya

Demokrasi adalah suatu bentuk sistem pentadbiran di mana kebebasan berpolitik dikuasai oleh rakyat dan digerakkan oleh rakyat. Pada zaman kini, ia juga turut digunakan di bawah sistem perlembagaan republik yang mana masyarakat memiliki suara melalui wakil yang dipilih. Kata demokrasi adalah merujuk kepada perkataan Greek δημοκρατία (dimokratia) yang membawa maksud “pentadbiran oleh rakyat” (Rujuk: Demokratia, Henry George Liddell, Robert Scott, “A Greek-English Lexicon”, at Perseus, http://www.perseus.tufts.edu/cgi-bin/ptext?doc=Perseus%3Atext%3A1999.04.0057%3Aentry%3D%2324422) yang mana terbina daripada perkataan δήμος (dēmos), yang merujuk kepada “masyarakat/rakyat” dan κράτος (kratos), “perundangan, atau penguasaan”. Ia mula dibentuk (diasaskan) kira-kira pada pertengahan abad ke 5 sebelum Masihi di dalam sistem pentadbiran Greek. Secara ringkasnya, demokrasi adalah suatu sistem di mana rakyat berkuasa terhadap pentadbiran yang dibentuk. (Rujuk: BBC History of democracy, http://www.bbc.co.uk/history/ancient/greeks/greekdemocracy_01.shtml)

Demokrasi mula diasaskan dari falsafah Greece kuno. (Rujuk: John Dunn, Democracy: the unfinished journey 508 BC - 1993 AD, Oxford University Press, 1994. & Kurt A. Raaflaub, Josiah Ober, Robert W. Wallace, Origin of Democracy in Ancient Greece, University of California Press, 2007)

Walaupun begitu, bangsa dan wilayah selain mereka juga turut terlibat di dalam proses perubahan (evolusi) pembinaan sebuah sistem demokasi di masa-masa selepasnya seperti yang berlaku di dalam Empayar Rome kuno, Eropah, serta America Selatan dan Utara. (Rujuk: John Dunn, Democracy: the unfinished journey 508 BC - 1993 AD, Oxford University Press, 1994. & Weatherford, J. McIver (1988). Indian givers: how the Indians of the America transformed the world. New York: Fawcett Columbine, 117 - 150).

Berdasarkan teori (pengertian) politik, demokrasi adalah satu juzuk perundangan dalam sesebuah pentadbiran dan juga merupakan sebuah kerangka yang membentuk suatu sistem politik tertentu. (Rujuk: Liberty and justice for some, http://www.economist.com/markets/rankings/displaystory.cfm?story_id=8908438)

Demokrasi terbina daripada dua prinsip utama, di mana yang pertama adalah setiap individu di dalam sesebuah masyarakat memiliki akses (hak) yang sama dalam melahirkan suara/pendapat. Dan yang kedua, setiap individu berpuas hati dengan hak yang dimiliki secara bersama (adil) di atas prinsip kebebasan dan kemerdekaan. (Rujuk: R. Alan Dahl, I. Shapiro, J. A. Cheibub, The Democracy Sourcebook, MIT Press 2003, M. Hénaff, T. B. Strong, Public Space and Democracy, University of Minnesota Press)

Pada masa ini, sistem demokrasi ini telah banyak berevolusi dan dilakukan penambah baikan (berbanding masa-masa sebelumnya) yang mana akhirnya melahirkan pelbagai versi demokrasi yang mana sebahagiannya memberikan gambaran (perlaksanaan politic) yang lebih baik dan bebas untuk rakyatnya (serta mereka yang terlibat) berbanding versi-versi yang lain. (Rujuk: G. F. Gaus, C. Kukathas, Handbook of Political Theory, SAGE, 2004, p. 143-145, The Judge in a Democracy, Princeton University Press, 2006, m/s. 26)

Walau bagaimana pun jika sekiranya demokrasi ini tidak digubal dengan teliti dan berhati-hati bagi mencegah ketidak-adilan penguasaan berpolitik dengan seimbang di dalam pembahagian kuasa, maka melalui sistem demokrasi itu sendiri ianya mampu melahirkan (mengumpulkan/membentuk) suatu kuasa yang berupaya untuk mengganggu-gugat sistem demorkasi itu sendiri. (Rujuk: A. Barak, The Judge in a Democracy, Princeton University Press, 2006, m/s. 40)

Secara keseluruhannya, setiap perundangan (ciri-ciri) di dalam setiap versi demokrasi yang wujud, ianya dapat dijelaskan melalui karakteristik dan sifat sistem itu sendiri. Akan tetapi, tanpa kewujudan proses pentadbiran yang bertanggungjawab, adalah suatu yang tidak mustahil bagi mereka yang berada dalam kelompok minority untuk menjadi mangsa (ditindas) oleh kelompok majoriti yang zalim. Apa yang penting dan menjadi aspek utama di dalam sistem demokrasi ini adalah suara setiap pihak diutarakan melalui perwakilan yang dipilih dari pilihanraya yang dijalankan dengan adil dan saksama (iaitu setiap rakyat memiliki hak yang sama dalam bersuara, mendapatkan peluang yang wujud, dan hak pembinaan sesebuah pentadbiran atau seumpamanya). Seterusnya, melalui sistem demokrasi ini setiap mereka memiliki kebebasan dalam melahirkan/memberikan idea bagi sesebuah pentadbiran, kebebasan bersuara, dan kebebasan untuk mendapatkan (atau membuat) liputan media agar setiap individu mendapat maklumat yang jelas. (Rujuk: A. Barak,The Judge in a Democracy, Princeton University Press, 2006, m/s. 27)

Bagi sesebuah sistem demokrasi, kedaulatan prinsip-prinsip di dalam perlembagaan adalah suatu yang penting sebagai asas pembinaan dan yang mengawal selia perlaksanaan sistem tersebut agar mampu berjalan dengan lancar. Dalam sebahagian negara, demokrasi dibina berdasarkan prinsip “Hak sama rata”. Kebanyakan masyarakat menggunakan perkataan “demokrasi” sebagai suatu yang menjurus kepada liberal demokrasi, yang mana merujuk kepada penambahan beberapa elemen dalam sistem demokrasi itu sendiri seperti pentadbiran pelbagai kaum (political pluralism), kesamaan sebelum perundangan, hak untuk mendapatkan pemilihan rasmi (pencalonan) bagi tujuan memperbaiki kelemahan tertentu, terlibat secara langsung dengan perubahan, kebebasan masyarakat awam, hak asasi manusia, dan keterlibatan masyarakat atau individu yang berada di luar pentadbiran (di luar kerajaan) terhadap pentadbiran. Di Amerika Syarikat, pembahagian dan pengasingan (monopoli) kuasa seringkali dikaitkan (dimaknakan) dengan tanda sokongan. Tetapi di sebahagian negara yang lain pula, seperti United kingdom, kuasa dominan adalah terletak di peringkat parlimen yang sentiasa bertindak sebagai penggubal perundangan secara adil.

Walau bagaimana pun, sehingga kini demokrasi masih menjadi suatu isu apabila masalah pembahagian kawasan berlaku, wujudnya kawasan yang memiliki perpindahan yang tinggi, dan negara yang terlibat dengan pengambilan atau kemasukan ramai rakyat asing.

2 - Tauhid (Aqidah Yang Murni) Sebagai Asas Pembinaan Seorang Muslim

Tauhid adalah merupakan persoalan asas dari dakwah setiap para rasul, kerana ia adalah asas dan dasar perlaksanaan segala amalan. Tanpa ditegakkan tauhid, apa jua bentuk amal ibadah yang dilakukan tidak akan diterima. Jika andainya tauhid tidak wujud, maka akan wujudlah lawannya, iaitu kesyirikan. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Surah an-Nisa’, 4: 48)

Tujuan manusia diciptakan secara dasarnya adalah bagi tujuan memperhambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Surah adz-Dzariyat, 51: 56)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari Ali bin Abi Talhah menyatakan bahawa Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat tersebut dengan katanya, “Ayat ini bererti menunjukkan atau memperuntukkan bahawa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya secara khusus dan tersendiri semata-mata kerana Allah (li yu Wahidun) sama ada dia rela atau sebaliknya.”

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…”.” (Surah an-Nahl, 16: 36)

“Kerana itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (simpulan) tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-Baqarah, 2: 256)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Surah an-Nisaa’, 4: 65)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan berkenaan ayat ini,

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan diri-Nya yang Maha Mulia, bahawa seseorang tidak beriman sehingga dia berhukum kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam setiap perkara. Hukum apa yang beliau putuskan, itulah kebenaran yang wajib untuk dipatuhi secara bersungguh-sungguh, zahir dan batin. (Shahih Tafsir Ibnu katsir, Terbitan Pustaka Ibnu Katsir (Bogor), Cet. pertama September 2007M, jil. 2, m/s. 572)

Menurut Sheikh Dr. Soleh Fauzan di dalam Kitab Tauhidnya,

Orang yang meyakini bahawa selain petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih sempurna dari petunjuk baginda, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mengutamakan hukum atau perundangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir. (Dr. Soleh Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Kitab Tauhid, Terbitan Darul Haq (Jakarta), Cet. 13 Mac 2006M, jil. 1, m/s. 69)

3 - Memahami Demokrasi Dan Undian dalam Pilihanraya

Pengertian Demokrasi Di Sisi Syariat?

1 – Perkataan “Demokrasi” bukanlah berasal dari bahasa arab

2 - Tidak ada pengertian secara bahasa (Arab)

3 – Bukan juga istilah dalam syari’ah

4 - Istilah yang tidak pernah diguna pakai pada masa Sahabat radhiyallahu ‘anhum.

5 - Istilah yang tidak pernah digunakan secara politik oleh orang-orang Arab.

Memahami Asal-Usul Demokrasi

Orang yang pertama kali mengungkapkan teori demokrasi adalah Plato. Menurut Plato, sumber kekuasaan adalah keinginan yang satu, bukan majmuk. (Rujuk: Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam, Menggugat Demokrasi & Pemilu, Darul Hadits (Depok), Cet. 3, 2004M, m/s. 33)

Demokrasi menurut tulisan Robert A. Dahl ialah “Sistem politik yang memberi kepada rakyat jelata untuk membuat keputusan secara terbuka”. (Rujuk: Muhammad Qutb, Mazahib Fikriyah Mu’assirah, Dar as-Syuruq, jil. 1, 1984, m/s. 178)

Masyarakat yang mula-mula mengasaskan sistem demokrasi adalah masyarakat Greek (Yunan) di Kota Athens. (Rujuk: Muhammad Qutb, Mazahib Fikriyah Mu’assirah, Dar as-Syuruq, jil. 1, 1984, m/s. 191)

Demokrasi mula diasaskan dari falsafah Greece kuno. (Rujuk: John Dunn, Democracy: the unfinished journey 508 BC - 1993 AD, Oxford University Press, 1994. & Kurt A. Raaflaub, Josiah Ober, Robert W. Wallace, Origin of Democracy in Ancient Greece, University of California Press, 2007)

Walaupun begitu, bangsa dan wilayah selain mereka juga turut terlibat di dalam proses perubahan (evolusi) pembinaan sebuah sistem demokasi di masa-masa selepasnya seperti yang berlaku di dalam Empayar Rome kuno, Eropah, serta America Selatan dan Utara. (Rujuk: John Dunn, Democracy: the unfinished journey 508 BC - 1993 AD, Oxford University Press, 1994. & Weatherford, J. McIver (1988). Indian givers: how the Indians of the America transformed the world. New York: Fawcett Columbine, 117 - 150)

Kata demokrasi adalah merujuk kepada perkataan Greek δημοκρατία (dimokratia) yang membawa maksud “pentadbiran oleh rakyat” (Rujuk: Demokratia, Henry George Liddell, Robert Scott, “A Greek-English Lexicon”, at Perseus, http://www.perseus.tufts.edu/cgi-bin/ptext?doc=Perseus%3Atext%3A1999.04.0057%3Aentry%3D%2324422) yang mana terbina daripada δήμος (dēmos), “masyarakat/rakyat” dan κράτος (kratos), “perundangan, atau penguasaan”. Ia mula dibentuk (diasaskan) kira-kira pada pertengahan abad ke 5 sebelum Masihi di dalam sistem pentadbiran Greek. Secara ringkasnya, demokrasi adalah suatu sistem di mana rakyat berkuasa terhadap pentadbiran yang dibentuk. (Rujuk: BBC History of democracy, http://www.bbc.co.uk/history/ancient/greeks/greekdemocracy_01.shtml)

Secara bahasa, pengertian demokrasi adalah “penetapan perundangan oleh perkumpulan manusia/rakyat”. Selanjutnya slogannya adalah: “Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Sumber mereka dalam penetapan perundangan (Hakimiyyah) adalah hak manusia (suara majoriti insan). Kemudiannya, tentu sekali manusia terbahagi menjadi dua kelompok asas iaitu ada yang baik dan yang jahat.

Pemerintahan dari rakyat = kekuatan pengubalan perundangan adalah dari kumpulan orang-orang yang terdiri dari para anggota parlimen atau wakil-wakil yang dipilih melalui pilihanraya. Suara rakyat memainkan peranan utama bagi meletakkan anggota parlimen tertentu.

Oleh rakyat = pemilihan anggota/wakil parlimen serta pemimpin dipilih oleh majoriti masyarakat (rakyat) melalui undi.

Untuk rakyat = wakil-wakil parlimen atau pemimpin yang dipilih oleh mereka akan mengatur masyarakat dengan apa yang telah ditetapkan (disepakati).

Pengertian Demokrasi

1 - Pemerintahan oleh rakyat yang dijalankan sama ada secara langsung atau dengan mengangkat para wakil-wakilnya.

2 – Perkumpulan manusia (suara rakyat) memainkan peranan dalam membina asas kekuatan dan kestabilan politik. Rombakan boleh berlaku dengan kesepakatan suara majoriti.

3 – Diatur (ditentukan) oleh kumpulan/suara majoriti dan wakil-wakil mereka.

Demokrasi dapat disimpulkan sebagai pemerintahan yang diuruskan oleh rakyat dalam suatu masyarakat. Corak pemerintahan ini dianggap bertentangan dengan sistem totaliter, namun demikian sistem demokrasi yang benar-benar tulus tidak pernah dilaksanakan sepenuhnya. (Rujuk: Robert A. Dahl, Modern Political Analysis, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, Edisi 3, 1979)

Tun Muhammad Salleh Abbas (bekas ketua Hakim negara malaysia) menulis: “Kerajaan yang bercorak demokrasi adalah kerajaan yang tertakluk kepada persetujuan rakyat dan menjalankan tugas-tugas politiknya untuk melaksanakan kehendak rakyat.” (Rujuk: K. Ramanathan, Konsep Asas Politik, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1992, m/s. 29)

Bagi sesebuah sistem demokrasi, kedaulatan prinsip-prinsip di dalam perlembagaan adalah suatu yang penting sebagai asas pembinaan dan yang mengawal selia perlaksanaan sistem tersebut agar mampu berjalan dengan lancar. Dalam sebahagian negara, demokrasi dibina berdasarkan prinsip “Hak sama rata”. Kebanyakan masyarakat menggunakan perkataan “demokrasi” sebagai sesuatu yang menjurus kepada liberal demokrasi, yang mana merujuk kepada penambahan beberapa elemen dalam sistem demokrasi itu sendiri seperti pentadbiran pelbagai kaum (political pluralism), kesamaan sebelum perundangan, hak untuk mendapatkan pemilihan rasmi (pencalonan) bagi tujuan memperbaiki kelemahan tertentu, terlibat secara langsung dengan perubahan, kebebasan masyarakat awam, hak asasi manusia, dan keterlibatan masyarakat atau individu yang berada di luar pentadbiran (di luar kerajaan) terhadap pentadbiran. Di Amerika Syarikat, pembahagian dan pengasingan (monopoli) kuasa seringkali dikaitkan (dimaknakan) dengan tanda sokongan. Tetapi di sebahagian negara yang lain pula, seperti United kingdom, kuasa dominan adalah terletak di peringkat parlimen atau pemimpin yang dipilih yang sentiasa bertindak sebagai penggubal perundangan secara adil.

Perkembangan Demokrasi

Revolusi Francis tercetus dengan slogannya yang terkenal, “Kebebasan, Persaudaraan, & Persamaan (Liberte, Egalite, Fraternite). Francis memasukkan demokrasi ke dalam undang-undang dasarnya di bawah kolum “Hak-hak asasi manusia” pada pasal ketiga, “Rakyat adalah sumber dan gudang kekuasaan. Setiap lembaga atau individu yang memegang kuasa, sebenarnya dia mengambil kekuasaan tersebut daripada rakyat.” Pasal ini dimasukkan kembali di dalam undang-undang dasar tahun 1791M. Di sini disebutkan bahawa tahta kepimpinan adalah milik rakyat. Sistem ini tidak mengakui model pembahagian kuasa, pengunduran diri, atau pun meraih kuasa dengan cara pemberontakan.

Kemudiannya, ideologi demokrasi ini turut dicantumkan (diterapkan) di dalam undang-undang dasar sebahagian negara Arab dan negara-negara Islam. Sebagai contoh, di Mesir ditetapkan di dalam undang-undang pertama tahun 1923 serta 1956. Dan pada tahun 1971 di dalam undang-undang tersebut terdapat teks yang menyebutkan antara lain bahawa: “Kepimpinan adalah milik rakyat dan rakyat adalah sumber kekuasaan menurut cara yang dijelaskan di dalam undang-undang.”b Pasal ini terdapat dalam undang-undang di hampir kesemua negara Arab dan negara Islam. Pasal seperti ini juga termaktub di dalam undang-undang Yaman (negara penulis). Sebagai contoh di dalam pasal empat disebutkan, “Rakyat adalah pemilik dan sumber kekuasaan. Kekuasaan itu boleh diperolehi secara langsung dengan cara pungutan suara atau melalui pemilihan umum. Demiian juga halnya dengan mencabut (menggugurkan) kuasa itu dapat dilakukan secara tidak langsung melalui lembaga legislatif (dewan rakyat), parlimen, dan eksekutif serta melalui majlis-majlis perwakilan yang dipilih.” (Rujuk: Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam, Menggugat Demokrasi & Pemilu, Darul Hadits (Depok), Cet. 3, 2004M, m/s. 33-34)

Akhirnya, terjadilah di mana persoalan pengaturan kehidupan manusia ini diletakkan di atas kerangka pemikiran dan ideologi masing-masing berdasarkan kekuatan majoriti. Dengan itu, prinsip-prinsip yang bersumberkan wahyu ditinggalkan sedikit-demi sedikit. Jika kita melihat kepada masyarakat demokratik barat, mereka begitu kuat dan gigih dalam usaha mempertahankan prinsip-prinsip seperti kebebasan, liberalisme dan sekularisme. Akhirnya mereka akan dibentuk agar menerima suatu corak kerangka idea (pemikiran) bahawa Tuhan hanyalah sekadar sebagai pencipta tetapi bukan sebagai yang memberikan perintah (yang menetapkan syari’at) serta perundangan atau sistem hidup.

Berkenaan persoalan seperti ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah (menetapkan hukum) hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”(al-A’raf, 7: 54)

Masyarakat yang mengambil sistem demokrasi, secara umumnya mereka akan memiliki dasar-dasar asas sebagaimana berikut:

1 - Kuasa penggubalan undang-undang = Keupayaan untuk menggubal, menyusun, atau mengubah hukum terletak kepada wakil, anggota kabinet atau anggota parlimen berpandukan peratusan majoriti tertentu (suara majoriti).

2 - Kuasa eksekutif = perlaksanaan, pentadbiran luar negeri, dalam negeri, pendidikan dan sebagainya.

3 - Kuasa Penghakiman = menghakimi kes-kes dan membolehkannya selama berdasarkan pada hukum yang telah ditetapkan (perlembagaan).

Demokrasi dibentuk antaranya adalah bagi melahirkan pentadbiran berdasarkan kehendak rakyat dan menepati kehendak (kepuasan) rakyat. Ia juga bertujuan memperjuangkan hak-hak kebebasan dalam sebuah kelompok masyarakat.

Demokrasi terbina daripada dua prinsip utama, di mana yang pertama adalah setiap individu di dalam sesebuah masyarakat memiliki akses (hak) yang sama dalam melahirkan suara/pendapat. Dan yang kedua, setiap individu berpuas hati dengan hak yang dimiliki secara bersama (adil) di atas prinsip kebebasan dan kemerdekaan. (Rujuk: R. Alan Dahl, I. Shapiro, J. A. Cheibub, The Democracy Sourcebook, MIT Press 2003, M. Hénaff, T. B. Strong, Public Space and Democracy, University of Minnesota Press)

Perlembagaan

Secara umumnya, perlembagaan difahamkan sebagai kumpulan peraturan atau perundangan sama ada bertulis atau tidak bertulis, yang menentukan organisasi kerajaan, pembahagian kuasa di antara perlbagai badan kerajaan dan prinsip-prinsip umum bagaimana kuasa-kuasa tersebut dilaksanakan Bagi sesebuah negara moden yang berdaulat, perlembagaan merupakan sumber undang-undang tertinggi dan setiap individu perlu mematuhi keluhurannya. (Rujuk: Shamsul Amri Baharuddin, Modul Hubungan Etnik, Pusat Penerbitan Universiti (UPENA), Cet. Kedua 2008, m/s. 92)

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeza pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surah an-Nisaa’, 4: 59)

Begitulah asas-asas utama di dalam Islam, segala permasalahan dikembalikan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber rujukan utama menetapkankan dan menyelesaikan sesuatu persoalan. Agama islam ini juga adalah suatu agama (dien) yang telah sedia sempurna sebagai nikmat dan petunjuk buat setiap umat Islam. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Surah al-Ma’idah, 5: 3)

Parlimen

Kewujudan Parlimen adalah untuk bertindak sebagai penggubal undang-undang, terutamanya bagi negara-negara yang mengamalkan sistem demokrasi berkiblatkan British. Secara asasnya, parlimen memberi maksud sebuah syarahan, perbahasan/perbincangan, perhimpunan di mana anggota-anggota (wakil-wakil) yang terlibat di dalamnya memperkatakan persoalan-persoalan tertentu sebelum sesuatu perkara seterusnya diputuskan.

Parlimen berasal dari negara yang berhukum dengan rakyat (suara majoriti). Namun, disebabkan kesemua individu tidak dapat untuk melibatkan diri dalam proses tersebut secara langsung untuk satu-satu masa, maka mereka memilih perwakilan yang disebut sebagai anggota dewan (atau wakil rakyat, wakil parlimen, atau semaksud dengannya) untuk melaksanakan tujuan politik (pentadbiran).

Parlimen Legislatif (Penggubal Undang-undang)

1 – Membuat, menggubal dan mensahkan suatu perundangan yang telah disepakati.

2 - Memberikan pemerintah suara (kuasa) berdasarkan kepercayaan atau ketidakpercayaan.

Pada ketika ini (zaman ini), parlimen bertindak sebagai tempat membincangkan dan membahaskan dasar-dasar pembinaan perundangan bagi sesebuah negara atau masyarakat. Undang-undang yang digubal adalah bergantung kepada suara majoriti (persetujuan/kesepakatan ahli) tanpa mengambil kira sama ada ianya bertepatan dengan syari’at Allah atau pun tidak. Setiap pihak yang memilih wakil parlimen perlu bersetuju dengan perlembagaan (terma) yang diguna-pakai. Manakala mereka yang menjadi ahli parlimen perlu mengangkat sumpah sebagai tanda persetujuan menegakkan setiap perundangan di bawah dasar-dasar perlembagaan. Maka dengan ini apabila mereka menyertai demokrasi, ini menandakan persetujuan mereka terhadap perjalanan sistem tersebut dan mereka perlu bersetuju bahawa dalam sistem tersebut setiap penggubalan (penetapan) perundangan adalah berdasarkan suara majoriti. Maka mereka perlu redha dan membantu perlaksanaan setiap undang-undang yang digubal walau bukan dengan persetujuan mereka. Di samping itu, mereka juga perlu bersetuju dengan sistem tersebut bagi membolehkan penyertaan mereka. Apabila mereka menyertainya dan mengambil peranan, bermakna mereka telah bersetuju dengan corak sistem perundangan demokrasi yang berlangsung walaupun sebagai umat Islam, kita sedia mengetahui bahawa sebenarnya sistem tersebut melampaui batas-batas syari’at.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Surah an-Nisaa’, 4: 48)

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”(Surah at-Taubah, 9: 31)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia bergelumang terhadap kesesatan yang telah dikerjakannya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Surah an-Nisaa’, 4: 115)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa saja yang melakukan perbuatan yang bukan berasal dari ajaranku (Islam) maka ianya tertolak.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Jika parlimen adalah suatu sistem yang haram dan mengarah kepada syirik, maka begitu juga dengan persoalan untuk menjadi calonnya, begitu juga dengan memberikan suara kepada calon yang bertanding tersebut.

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan maksiat. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Surah al-Ma’idah, 5: 2)

Beberapa perkara yang perlu kita fahami dan ketahui bahawa,

Haq membuat hukum-hukum syari’at adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

”Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (menetapkan hukum) hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Surah Yusuf, 12: 40)

Tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan yang bersifat menetapkan,

“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (Surah ar-Ra’ad, 13: 41)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan sesat yang nyata.”(Surah al-Ahzab, 33: 36)

4 - Berhukum Dengan Suara Majoriti Bukanlah Suatu Kebenaran

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Ma’idah, 5: 100)

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Surah Yusuf, 12: 103)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kaum Muslimin dengan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup,

“Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Surah Ali Imran, 3: 19)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi orang-orang yang memilih jalan hidup lain selain dari jalan Islam di dalam firman-Nya yang berikut ini,

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Surah Ali Imaran, 3: 85)

”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.”(Surah asy-Syura, 42: 21)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (Surah an-Nisaa’, 4: 60)

Dalam persoalan ini, ummat Islam tidak mempunyai pilihan lain melainkan mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surah an-Nisaa’, 4: 59)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah al-An’am, 6: 116)

5 - Setiap Individu Akan Dihitung (Amalnya)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menyoal mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Surah al-Hijr, 15: 92-93)

Memilih (anggota dewan) yang mendukung sistem demokrasi, mencalonkan diri sendiri untuk memimpin, mempromosi (mengangkat) diri sendiri dan kelompok (parti) sendiri, mencari-cari keburukan pihak yang tidak sehaluan, membolehkan wanita turut terpilih, dan juga memecah-belahkan kesatuan umat Islam, adalah suatu perbuatan yang sebenarnya memiliki pelbagai kesalahan dan penyimpangan menurut timbangan syari’at,

”Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).” (Surah al-Ma’idah 5: 44)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Kami tidak akan memberikan jawatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan berusaha untuk mendapatkannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

6 - Menyangkal Syubhat-syubhat Di Dalam Demokrasi

Menyangkal Hujjah Bolehnya Demokrasi

Terdapat dari sebahagian kelompok manusia yang cuba menghalalkan sistem demokrasi. Mereka berhujjahkan antaranya yang pertama dengan kisah Yusuf ‘alaihis Salam.

Mereka mendakwa bahawa Nabi Yusuf ‘alaihis Salam bekerja sebagai pembesar raja Aziz di Mesir. Mereka mengeluarkan pendapat bahawa Nabi Yusuf ‘alaihis Salam turut menawarkan diri untuk menjadi pemimpin. Maka, perlu kita fahami di sini bahawa Nabi Yusuf ‘alaihis Salam:

1 - Beliau tidak bekerja di dalam bahagian legislatif (penggubalan hukum), tetapi dalam eksekutif (perbendaharaan/ekonomi).

2 - Beliau berkata “soal menetapkan hukum hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala” (Innil Hukmu illa lillah) – (Rujuk: Surah Yusuf, 12: 40), malahan beliau berpegang dengannya dari saat ketika dia berada dalam tahanan lagi.

3 – Jawatan yang diberikan kepada Yusuf adalah pemberian dari Allah (Rujuk: Surah Yusuf, 12: 56). Dia dilantik oleh Raja Mesir (Rujuk: Surah Yusuf, 12: 54). Dan bukanlah menurut hawa nafsunya. Dan apabila dia diminta Raja Mesir menjadi pembesar, maka Yusuf ‘alaihis Salam menyatakan dia lebih sesuai untuk menguruskan perbendaharaan Mesir (Rujuk: Surah Yusuf, 12: 55). Ini adalah sebagai pengkhususan jawatan yang lebih sesuai dengannya selepas diberikan tawaran sekaligus mengelakkan dari mengawal selia sesuatu yang bukan dari urusannya (di luar kelayakkannya).

4 – Yusuf ‘alaihis Salam tidak menghukumi saudaranya berdasarkan undang-undang raja (Rujuk: Surah Yusuf, 12: 76).

5 – Nabi Yusuf terhindar dari tekanan Raja Mesir dan dia dapat melaksanakan agamanya dengan baik. Jika dibandingkan dengan mereka yang berada di dalam sistem demokrasi, adakah mereka dapat berbuat sedemikian?

6 – Ketika Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ditawarkan suatu jawatan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu yang mana menurut Umar, “Adakah engkau tidak suka tawaran ini, padahal orang yang lebih baik daripadamu menerima tawaran seperti ini, iaitu Yusuf ‘alaihis Salam.” Beliau (Abu Hurairah) lantas menolak tawaran tersebut dengan katanya, “Yusuf adalah seorang Nabi, putera nabi, dan juga cucu seorang nabi. Sedangkan aku hanyalah Abu Hurairah, putera Umaimah. Aku takut terhadap tiga kesulitan sebagai akibat dari dua perkara.” Tiga perkara tersebut adalah beliau takut apabila berkata tanpa ilmu, memutuskan perkara tanpa belas kasihan dan akhirnya dia akan dipukul, hartanya dirampas, serta kehormatannya dicemarkan. (Hadis Riwayat Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat al-Kubra, 4/335) Di sini menjelaskan bahawa Yusuf adalah seorang Nabi yang sentiasa dijaga dan mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rujuk juga Surah Yusuf, 12: ayat 56.

Sebahagian mereka juga menggunakan hujah bahawa Raja Najasyi yang memerintah Habsyah tanpa melaksanakan syari’at atas sebab keterpaksaan. Maka, alasan mereka itu dapat dijawab secara ringkas sebagaimana berikut,

1 – Raja Najasyi telah memeluk Islam sebelum kematiannya.

2 - Syari’at masih belum lengkap pada ketika itu.

3 – Kita masih mempunyai pilihan untuk meninggalkan demokrasi dan melaksanakan Islam tanpa bergantung (mengikat) kepada sistem tersebut.

4 – Raja Najasyi telah pun menjadi raja (pemimpin) sebelum memeluk Islam lagi dan telah pun mendapat kepercayaan.

Berhujjah Dengan Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah Untuk bersekongkol Dengan Kafirun

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berkompromi (atau meredhai) dengan rejim dan sistem yang kufur, tetapi sebagai pemimpin Negara Islam beliau berunding sebelum gencatan senjata berlaku dan bagi tujuan keamanan di antara dua kawasan dan dua kumpulan. Beliau juga tidak berkompromi dan tidak masuk campur dengan pemilihan ketua-ketua puak dan kabilah dari pelbagai jenis aliran.

Kaum kuffar membuat sebuah perjanjian untuk menghentikan peperangan pada ketika musim Haji dan memerhatikan para Jamaa’ah Haji, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menyetujui cadangan tersebut, tetapi tidak pernah terlibat dan terikat dengan urusan kerja yang dilakukan oleh kaum kuffar tersebut.

Mengambil sedikit manfaat dari demokrasi

Islam membolehkan menggunakan asas manfaat tetapi hanya di dalam perkara-perkara yang mubah (perlu dan tidak membawa dosa) saja.

Jika kita perhatikan sebagai contoh persoalan “Mana yang lebih buruk, dalam perkara membunuh bayi, memperkosa atau meminun khamr”. Maka kita katakan bahawa, Khamar adalah induk dari semua kejahatan. Dan tetap perlu meninggalkan yang selainnya. Dan bukannya memilih salah satu yang paling kurang dosanya (mudharatnya) atas alasan yang sebenarnya tidak relevan di mana mereka masih memiliki banyak jalan keluar yang lain.

Mencegah Kemungkaran Yang Berlaku Di Depan Mata

Di dalam persoalan demokrasi juga, kita tidak boleh hanya berdiam diri di kala kemungkaran sentiasa berlaku di persekitaran kita di dalam sistem tersebut. Ia adalah sebagaimana yang kita sebutkan dari awal artikel tadi. Apakah kita telah bertindak mencegahnya atau hanya mendiamkan diri sebagai tanda redha dan demi kelangsungan kita bersama-sama sistem yang mungkar tersebut?

Perlu Memenuhi perjanjian

Hanya jika itu tidak berlawanan dengan Syari’at atau agama.

Sebagai Rakyat, Kita Mesti Melaksanakan Kepentingan umum

Melaksanakan kepentingan umum adalah dibolehkan, namun hanyalah jika ianya tidak berlawanan dengan syari’at. Ada pun di dalam soal yang bercanggah dengan syari’at, maka ianya perlu ditinggalkan. Berbeza dengan sistem demokrasi. Mereka yang masuk ke dalamnya, mahu tidak mahu, mereka akan tetap bersekongkol melaksanakan perundangan yang telah disepakati biarpun ia tidak menepati syari’at.

7 - Syubhat-syubhat Demokrasi Yang Merosakkan Umat Islam

i - Syirik Kepada Allah

Ini adalah sebagaimana yang telah dibincangkan melalui kupasan sebelumnya di mana melalui sistem demokrasi kita terpaksa mendahulukan suara majoriti (dengan membelakangkan syari’at) setelah mana kita sendiri menyetujui perlaksanaan sistem tersebut.

ii - Mempertuhankan Suara Majoriti Manusia

Ia adalah juga sebagaimana yang telah dibincangkan sebelumnya.

iii - Mempromosi dan Mengangkat (Memuji) Diri Serta Merendah-rendahkan Orang Lain

Perkara ini pada asalnya adalah tidak dibenarkan (haram). Seseorang adalah dituntut agar sentiasa merendah diri, tidak menonjolkan diri, atau membanggakan diri.

“(Iaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surah an-Najm, 53: 32)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Kami tidak akan memberikan jawatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan berusaha untuk mendapatkannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Di samping mengangkat kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri sendiri, mereka pula saling tidak senang jika tidak memburuk-burukkan kelompok yang tidak sehaluan dengan mereka. Ini dilakukan antaranya adalah supaya pihak lawannya tewas dan tidak menang dalam pemilihan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surah al-Hujuraat, 49: 11)

Setelah melakukan penghinaan dan perendahan terhadap kelompok-kelompok lainnya yang tidak sehaluan, sebahagian mereka juga ada yang menebar fitnah dan prasangka-prasangka yang belum tentu kepastiannya. Malah, mereka juga saling memburuk-burukkan sesama mereka. Dalam persoalan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), kerana sebahagian dari pra-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Hujuraat, 49: 12)

iv - Terpaksa Mentaati Perundangan Kufur

Apabila memilih menceburi sistem demokrasi, mereka mesti berhadapan dan tunduk dengan pelbagai sistem perundangan kufur malah perlembagaan. Mereka juga tidak dapat tidak perlu merestui dan memperjuangkan sistem yang sedia ada berserta keputusan yang dibuat atas kesepakatan suara. Pada akhir-akhir ini juga telah kedengaran betapa terdapat kelompok-kelompok yang melabelkan diri sebagai “Parti memperjuangkan Islam” tertentu yang kononnya cuba memperjuangkan sistem demokrasi yang telus dan agar perlembagaan dilaksanakan dengan bersih. Apakah motif perkataan mereka? Apakah mereka mahukan (mengharapkan) sesuatu yang bersih dari sesuatu yang sebenarnya memiliki dasar yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

”Wahai Nabi, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Ahzab, 33: 1)

”Maka Allah akan memberi keputusan (pengadilan) di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Surah an-Nisaa’, 4: 141)

v - Mengabaikan dan Mempersendakan Persoalan al-Wala’ wal Bara’

Dalam persoalan ini, betapa celarunya pemikiran mereka yang terlibat dengan sistem demorkasi tersebut. Mungkin sama ada mereka memang tidak memahami prinsip al-Wala’ wal Bara’ ini atau memang sengaja mereka melanggarinya dengan pelbagai alasan yang menjurus kepada nafsu politik semata-mata.

Hubungan di antara sesama kaum musimin, pemerintah Islam, kaum kuffar, dan seumpamanya dilakukan dengan jauh menyimpang dari tuntutan atau landasan syari’at. Dalam satu-satu keadaan mungkin mereka meletakkan kecintaan (wala’) kepada orang kafir melebihi cintanya kepada muslim sendiri. Begitu juga dalam hal mereka meletakkan kebencian dan berlepas diri (bara’) kepada kaum muslimin lebih tinggi berbanding pelepasan dan kebenciannya kepada prinsip-prinsip orang-orang kafir. Dalam konteks adab kepada pemerintah juga habis tunggang langgang mereka lakukan. Gejala fitnah memfitnah, menyebarkan ‘aib kelompok atau individu tertentu di khalayak ramai menjadi suatu perkara yang biasa, malah menjadikan suatu keutamaan untuk mencari keburukan pihak yang lain yang tidak sehaluan dengan kelompok mereka demi semata-mata meraih kedudukan. Sesungguhnya semua ini adalah suatu musibah yang besar yang sedang berleluasa masa kini. Jelaslah, perangkap musuh telah mengenakan kita dan memecah-belahkan kesatuan kita semua.

Untuk memahami lebih lanjut tentang penjelasan prinsip al-Wala’ wal Bara’ ini, silakan merujuk tulisan Syaikh Dr. Soleh Fauzan al-Fauzan melalui capaian berikut, http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com/2007/07/pengajian-aqidah-009-mengatur-cinta-dan.html

vi - Demokrasi Membenarkan Mengkritik Pemerintah Secara Terbuka

Dalam sesebuah negara yang mengamalkan demokrasi, mereka membenarkan sama ada rakyat atau pihak pembangkang melakukan kritikan dan teguran secara terbuka sama ada melalui media-media umum, syarahan-syarahan terbuka, persidangan dewan parlimen, dan seumpamanya. Malahan sehingga bukan setakat kritikan dan teguran terbuka, makian, cercaan, dan ejekan-ejekan pun turut dilakukan terhadap pihak pemerintah. Lebih parah lagi, rahsia-rahsia pihak pemerintah disebarkan melalui risalah-risalah tertentu ke segenap tempat. Sebenarnya hal tersebut banyak membawa kepada keburukan di ketika mana keadaan masyarakat itu sendiri yang tidak ditarbiyah dengan agama serta ilmu yang benar boleh mengakibatkan perasaan kebencian kepada pemerintah. Sekaligus mampu membangkitkan rakyat untuk melakukan perkara-perkara yang tidak sepatutnya seperti pemberontakan dan perpecahan. Lebih teruk lagi apabila perkara yang tidak tentu kebenarannya berkenaan pemerintah disebar-luaskan ke dada-dada media dan ruang informasi seperti akhbar dan internet. Akibatnya adalah amat buruk sekali.

Sedangkan berdasarkan Islam, melakukan kritikan dan teguran terbuka, apatah lagi melakukan cacian, penghinaan dan cercaan kepada pihak pemerintah adalah merupakan suatu bentuk perbuatan yang mungkar dan amat-amat dilarang oleh Islam.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan kalian menipu dan membencinya. Bertaqwa dan bersabarlah kepada Allah, sesungguhnya perkaranya dekat.” (Hadis Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/69, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah 2/488, Tahqiq Dr. Basim Jawabirah dan beliau menghasankannya)

Perlu kita fahami menasihati pihak pemerintah adalah tidak sama sebagaimana menasihati orang lain. Perkara ini adalah berbentuk khusus sebagaimana berdasarkan hadis berikut,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang hendak menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya, kemudian bersendirian dengannya. Apabila penguasa itu mahu menerima nasihat, maka itulah yang diinginkan. Apabila tidak, sesungguhnya dia (yang menasihati) telah menunaikan kewajibannya.” (Hadis Riwayat Ibnu Abi Ashim 2/507, Ahmad 3/403, Hakim 3/290 dan hadis ini turut disahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Dhilalil Jannah hal. 507)

Imam al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan bahawasanya Usamah bin Zaid pernah ditanya:

“Tidakkah engkau menemui Utsman kemudian menasihatinya?” Beliau menjawab: “Apakah kamu fikir aku tidak menasihatinya kecuali harus memberitahumu?! Sungguh aku telah menasihatinya dengan empat mata, dan aku tidak ingin membuka rahsia.” (Diriwayatkan oleh Bukhari 6/330, al-Fath 13/48, Muslim 4/2290)

Prinsip Islam di dalam persoalan ini adalah berusaha mengumpulkan hati manusia agar mencintai pihak pemerintah, iaitu menyebarkan rasa cinta di antara rakyat dengan pihak pemerintah, mengajak rakyat agar bersabar atas keburukan pihak pemerintah, sama ada terhadap tindakannya yang memonopoli terhadap harta, perlakuan zalimnya dan lain-lain. Istiqamah menasihati pihak pemerintah dengan rahsia (bukan secara terbuka), memperingatkan pihak pemerintah dari kemungkaran secara umum tanpa menyebutkan individu dan nama orangnya, iaitu sebagaimana memperingatkan bahaya zina secara umum, riba secara umum, bahaya rasuah (penyelwengan) secara umum dan yang seumpamanya. (Abdus Salam Barjis, Muamalatul Hukkam Fi Dhauil Kitabi wa as-Sunnah, hal. 111)

vii - Memilih Pemimpin Dari Kalangan Bukan Islam Atas Alasan Memperkuatkan Parti (Jama’ah)

“Khabarkanlah kepada orang-orang munafik bahawa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (iaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Adakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan adalah kepunyaan Allah.” (an-Nisaa’, 4: 138-139)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Ma’idah, 5: 51)

viii - Bersekongkol Dengan Orang-orang Kafir Untuk Saling Menjatuhkan Kelompok Selain Mereka (walaupun sesama muslim),

Maka, dalam situasi ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka lakukan itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, iaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Surah al-Ma’idah, 5: 79-81)

Selain berkerjasama dengan kaum kuffar dalam saling menjatuhkan di antara kelompok yang berbeza haluan, sebenarnya mereka juga telah meninggalkan kerjasama dengan kaum muslimin lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat dan menunaikan zakat, lalu mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Surah al-Ma’idah, 5: 55-56)

ix - Mengambil Pemimpin Dari Orang Yang Mempersendakan Agama

Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (iaitu) di antaranya orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (al-Ma’idah, 5: 57)

Namun, pada ketika ini betapa begitu ramainya perkumpulan manusia yang pada asasnya bertunjangkan ideologi kepentingan peribadi dan parti masing-masing mereka mempergunakan agama demi mempromosi dan menampakkan seakan-akan merekalah yang terbaik, paling taat, dan paling layak untuk dinobatkan sebagai pemimpin. Maka, pada masa itulah, agama diolah mengikut citarasa mereka, manakala dalil-dalil agama diambil mengikut keperluan kepentingan mereka dan demi kelangsungan survival politik masaing-masing. Ini berlaku tidak kira sama ada di dalam kelompok parti yang memang tidak bertunjangkan Islam, mahu pun mereka yang mendakwa bahawa mereka membawa parti yang berasaskan Islam. Lebih parah lagi, kebanyakan parti yang bertopengkan “perjuangan Islam” itu sendiri sebenarnya hanya membawa agama plastik yang mana hakikat konsep parti mereka dipenuhi dengan bid’ah (amalan-amalan yang menyimpang dari agama sebenar) dan jauh dari pembangunan nilai-nilai ilmu yang sahih. Sungguh mengejutkan lagi, apabila kaum kafir juga sudah mula menggunakan nama dan sentimen Islam demi mempromosi diri dan mengambil hati masyarakat beragama Islam. Maka, sewajarnyalah kita melihat kembali kepada ayat-ayat Allah yang melarang keras mempergunakan dan mempersenda-sendakan agama. Apatah lagi demi kepentingan yang bukan selayaknya dan jauh dari asas tujuan mentauhidkan Allah. Sewajarnya kita tinggalkan dan berlepas diri dari mereka yang bersikap sedemian rupa.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya),

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, kerana perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (al-An’am, 6: 70)

Manakala melalui beberapa hadis Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda mengenai meminta jawatan yang antaranya,

“Kami tidak akan memberikan jawatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan berusaha untuk mendapatkannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga pernah bersabda kepada Abdur Rahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, “Ya Abdur Rahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jawatan pemerintahan. Apabila jawatan itu diberikan kepadamu disebabkan engkau memintanya, maka jawatan itu sepenuhnya akan dibebankan kepadamu. Namun apabila jawatan itu diberikan bukan kerana permintaanmu, maka engkau akan dibantu dalam memikulnya. Jika engkau bersumpah atas sesuatu perkara, setelah itu engkau melihat ada yang lebih baik dari sumpahmu, maka tunaikan kafaratnya dan lakukanlah apa yang lebih baik.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

x - Fitnah Wanita

Di dalam sistem demokrasi, mereka tidak lagi mengira sama ada wanita atau lelaki yang mahu menjadi pemimpin. Mereka juga tidak lagi mengambil kisah persoalan percampuran (ikhtilat) di antara kaum lelaki dengan wanita sama ada semasa berkempen, berbahas, atau bersalaman.

Dalam perkara ini, terdapat suatu hadis yang menjelaskan berkenaan pengangkatan kaum wnaita sebagai pemimpin,

“Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang wanita.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Dari sini, salah satu hikmahnya adalah kerana wanita memiliki beberapa kelemahan dan keadaan yang dapat menghalanginya untuk melaksanakan tugas dengan baik dan sempurna jika dibandingkan dengan kaum lelaki. Wanita memiliki mental dan daya fizikal yang lebih lemah, tidak terlepas dari permasalahan biologi yang fitrah seperti haid, nifas, melahirkan anak, menyusui anak dan seumpamanya.

Berkenaan soal ikhtilat pun, kita sering melihat di media-media massa dan cetak di mana wanita dieksploitasikan sebagai bahan untuk berkempen, meraih undi, dan seumpamanya. Wanita bergerak ke sana dan ke mari tanpa menitik beratkan bagaimanakah soal auratnya, keselamatannya dan adakah dengan bersama mahramnya atau tidak? Malahan, demi sebuah kempen, mereka diarahkan dan sanggup pergi ke mana-mana saja pelusuk tempat untuk tujuan kelompok parti. Dan sehingga perlu berjumpa dengan sesiapa sahaja sehinggakan kaum lelaki juga ditemuinya dan diajak berbincang.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman (maksudnya),

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan”.” (Surah an-Nuur, 24: 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada ... (mahram mereka).” (Surah an-Nuur, 24: 31)

“...dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Surah al-Ahzaab, 33: 33)

Dari Umaimah binti Ruqaiqah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersama beberapa orang wanita yang lain untuk tujuan berbai’at. Beliau menyatakan, “Mari kami membai’at engkau wahai Rasulullah (dengan maksud untuk berjabat (salam) tangan)”. Maka beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidaklah bersalaman tangan dengan kaum wanita”. (Hadis Riwayat at-Tirmidzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan di dalam kitab al-Ikhtiyarat al-‘Ilmiyah,

Dan diharamkan memandang wanita yang bukan mahram dan kaum lelaki dengan syahwat. Dan barangsiapa yang menghalalkan perbuatan tersebut, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan para ulama, dan diharamkan memandang hal itu bersama dengan adanya gelojak syahwat, dan itulah yang telah ditetapkan oleh imam Ahmad dan asy-Syafi’i... dan menyentuh itu sama hukumnya seperti melihat, bahkan perkara itu lebih dahsyat lagi.

“Ditusukkan kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum yang terbuat dari besi adalah lebih baik baginya daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani

xi - Suburnya Perpecahan Di Dalam Masyarakat

Dalam sebuah aplikasi berpandukan sistem demokrasi, masyarakat dibenarkan untuk menubuhkan parti (kumpulan) demi untuk bertanding merebut kerusi dan membina kerajaan. Sekaligus membawa ideologi dan resolusi masing-masing bagi sebuah negaranya.

Maka, dari sini sebenarnya telah terbukti banyak sekali menimbulkan perpecahan dan pergolakan di antara masyarakat apabila masing-masing mahu memenangkan kelompok masing-masing yang berpandukan kepada pendapat dan pemikiran masing-masing. Sehingga ada dari mereka sanggup menggunakan dan mempermainkan isu agama demi kepentingan survival politik kelompok masing-masing. Maka, dari sini juga, secara langsung ia pasti akan membenarkan tersebarnya kepelbagaian ideologi yang sama ada menepati syari’at atau sebaliknya, malahan mungkin juga yang menentang. Maka, survival agama Islam akan menjadi terpinggir dan boleh dikikis nilai-nilainya dengan mudah melalui pelbagai jenis syubhat dan propaganda yang dimainkan.

Malahan, ia sekaligus menggalakkan perpecahan di kalangan masyarakat Islam itu sendiri. Hanya kerana sedikit perbezaan, maka masing-masing mula membuat haluan politiknya sendiri dan menubuhkan kelompok yang baru. Apabila parti saling berbeza, maka budaya menjatuhkan dan mengkritik di antara satu dengan yang lain akan terus bercambah dan subur. Maka, bermulalah bibit-bibit perpecahan dan pergolakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka sentiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang derhaka) semuanya.” (Surah Hud, 11, 118-119)

“..Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, iaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Surah ar-Ruum, 31-32)

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Surah al-Mukminuun, 23: 53)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (maksudnya),

“Sesungguhnya Allah meredhai kamu dalam tiga perkara dan membenci kamu dalam tiga perkara: Dia meredhai kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah,...” (Hadis Riwayat Muslim)

xii - Fanatik Kepada Kelompok Masing-masing (Asabiyah)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“..Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, iaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Surah ar-Ruum, 31-32)

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Surah al-Mukminuun, 23: 53)

Sebuah kesombongan dalam menerima kebenaran yang jelas adalah suatu yang membawa maksud kepada membela sebuah kebatilan. Sikap fanatik dan taksub yang sekaligus menimbulkan perasaan tersangat cintanya kepada kelompok dan kumpulan masing-masing biasanya akan melahirkan kebencian kepada pihak selainnya. Dari itu juga, dia akan membenarkan apa sahaja yang datang dari kumpulannya dan mengkritik apa sahaja yang lahir dari kelompok selainnya. Ini sangat biasa berlaku di dalam parti-parti yang menyertai demokrasi pada masa ini.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (maksudnya),

“Barangsiapa yang tebrunuh di bawah panji kesombongan membela rasa taksub dan benci kerana taksub, maka terbunuhnya adalah atas landasan jahiliyyah.”

Pada masa ini, banyak sekali dari parti-parti yang menyertai demokrasi sama ada dari parti yang kononnya berlabel Islam atau pun bukan, mereka begitu aktif mendoktrin dan menyemai ahli-ahli mereka bahawa hanya kelompok merekalah yang sebaik-baiknya dalam membela negara. Bagi parti yang kononnya membawa panji-panji Islam pula, mereka akan mendoktrinkan bahawa merekalah pejuang-pejuang Islam yang tulen dengan laungan-laungan jihad dan seumpamanya yang palsu belaka. Atas sebab itu jugalah mereka mula mempertikaikan umat Islam lainnya yang berada di luar kelompok mereka sebagai kurang Islamic, kafir, jahil, bodoh, sesat, sekaligus menjadikan ia sebagai dalil yang membolehkan merendah-rendahkan dan menghinakan kelompok yang selain dari mereka.

Sedangkan Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahawa betapa pentingnya ukhuwah dalam Islam itu. Dia juga menjelaskan betapa pentingnya untuk menunjukkan akhlak yang baik, wajibnya berlaku adil serta juga perlunya bermuamalah dengan baik terhadap mereka yang selain umat Islam. Segalanya telah lengkap diperjelaskan dengan kaedah-kaedahnya, tetapi kebanyakan mereka tidak mahu mengambil tahu atau sengaja buat tidak tahu. Maka, perkara ini adalah di antaranya berdasarkan beberapa ayat sebagaimana berikut,

“Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tetapi sekiranya yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sehingga mereka kembali kepada perintah Allah. sekiranya ia telah reda, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surah al-Hujuraat, 49: 9-10)

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah al-Hujuraat, 49: 13)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) kerana Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-ma’idah, 5: 8)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Surah Ali Imran, 3: 159)

xiii - Meninggalkan Dakwah Aqidah

Dalam persoalan ini, berapa ramaikah di antara mereka yang membina parti-parti dalam berpolitik menitik-beratkan persoalan tarbiyah bermula dari dasar aqidah sebagai prioriti-nya. Kemudian bagaimana pula persoalan amalan dan keikhlasan? Apa yang jelas, begitu berleluasanya bid’ah dan penyimpangan yang terkandung di dalam parti-parti itu sendiri walaupun masing-masing mendakwa sebagai mewakili parti Islam. Malahan, sebenarnya mereka tidak lain, hanyalah mementingkan semangat asabiyah dan mengobarkan api kebencian kepada pemerintah sedia ada. Inilah dia dasar yang mereka bina iaitu perjuangan yang difokuskan atas dasar memenangkan parti semata-mata dengan menolak ketepi peroslan yang paling utama iaitu aqidah.

Ini jelas terbukti apabila mereka sanggup bersekongkol dengan orang-orang kafir sekaligus mengetepikan kaum muslimin yang selainnya atas sebab berbeza tujuan dan kelompok (parti) politik. Mereka juga bersedia menerima siapa saja di dalam keahlian tanpa mengira individu tersebut adalah syi’ah, kaum sesat dari pelbagai aliran tarekat dan sufi, golongan muktazilah (ahli ra’yi/falsafah), asya’irah, golongan liberal dan pelbagai lagi asalkan boleh bersama-sama mereka memenangkan parti masing-masing. Makanya di sini telah jelas bahawa fokus mereka adalah kekuasaan dan bukannya menjadikan kelompok mereka sebagai golongan yang beraqidah yang sahih dan jauh dari syirik atas manhaj ilmu.

xiv - Fitnah Gambar

Fenomena membuat gambar sebagai bahan untuk berkempen dan untuk publisiti begitu berleluasa. Selain itu, gambar-gambar tokoh dan pemimpin-pemimpin mereka dari kelompok masing-masing diagungkan dan dipotretkan dengan pelbagai cara atas alasan untuk menarik orang, untuk dikenang, dan untuk melahirkan semangat perjuangan.

Sedangkan di dalam hadis-hadis nabi, persoalan ini diterangkan dengan begitu jelas sekali.

Orang yang paling mendapat siksa pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (pelukis/pengukir). (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Daripada ‘Aun bin Abu Juhaifa, Ayahnya menyatakan, “Nabi melarang mengambil duit jual beli anjing dan darah, melarang kerja-kerja membuat tatoo dan mentatoo diri, melarang menerima atau memberi riba, dan juga mencela pembuat gambar”. (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Daripada ‘Aisyah dia menjelaskan, “Aku membeli sebuah bantal bergambar. Apabila Rasulullah melihat ia, dia berdiri di pintu dan tidak terus masuk ke rumah. Aku menyedari air mukanya berubah kelihatan seperti ada sesuatu yang tidak disukainya. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, (tolong beritahu aku) apakah dosa ku?” Rasulullah berkata, “Ada apa dengan bantal ini?” Aku menjawab, “Aku membelinya untuk engkau agar dapat duduk dan bersandar padanya”. Rasulullah berkata, “Pembuat gambar ini akan di-azab pada hari kiamat.” Rasulullah menambah, “Malaikat (pembawa rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Daripada Said bin Abu al-Hasan, “Ketika saya bersama Ibnu ‘Abbas, seorang lelaki datang dan berkata, “Wahai Ibnu Abbas, pendapatan (periuk nasi) saya adalah dari hasil kerja tangan saya dan kerja saya adalah membuat gambar-gambar ini”. Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya sekadar memberi tahu apa yang saya dengar dari Rasulullah. Saya mendengar beliau bersabda, “Barang siapa membuat gambar dia akan di-azab oleh Allah sehingga dia mampu menghidupkannya dan sesungguhnya dia tidak akan berupaya untuk menghidupkannya”. Mendengarkan hal ini, lelaki itu menarik nafas panjang (mengeluh) dan mukanya menjadi pucat. Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Jika kamu masih tetap mahu untuk membuat gambar-gambar, saya menasihatkan agar kamu membuat gambar-gambar pokok (tumbuh-tumbuhan) dan sebarang gambar yang bukan berupa dari makhluk bernyawa”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Daripada Ibnu ‘Abbas, “Aku mendengar Muhammad berkata, “Barang siapa membuat gambar di dunia ini, dia akan dipersoalkan serta diminta supaya memberikan nyawa kepada apa yang dilukiskannya pada hari kiamat nanti, tetapi dia tidak akan mampu melakukannya”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

... Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Jika kamu masih tetap mahu untuk membuat gambar-gambar, saya menasihatkan agar kamu membuat gambar-gambar pokok (tumbuh-tumbuhan) dan sebarang gambar yang bukan berupa dari makhluk bernyawa”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Untuk perbahasan selanjutnya berkenaan gambar, boleh merujuk tulisan yang lalu melalui pautan berikut, http://fiqh-sunnah.blogspot.com/2008/05/94-larangan-membuat-menggantung-gambar.html

Begitulah syubhat-syubhat yang terlahir dari demokrasi yang mana kian merosakkan sebahagian besar umat Islam.

xv – Minoriti VS Majoriti

Sebagaimana yang kita sedia maklum bahawa demokrasi ditegakkan atas pungutan suara dari pihak yang memiliki suara atau undian majoriti. Maka, pemerintah yang bakal memegang tampuk pemerintahan atau kerajaan juga adalah dari kelompok majoriti atau parti yang mendapat undian terbanyak. Persoalannya di sini, bagaimanakah dengan haq-haq dan suara dari pihak yang menempati kelompok minoriti? Apakah mereka bakal mendapat keadilan sebagaimana pihak majoriti?

xvi – Wujudnya Unsur-unsur Pertaruhan (Perjudian)

Dalam proses pilihanraya di bawah prinsip sistem demokrasi, sesiapa sahaja layak dan dibenarkan untuk mencalunkan diri untuk bertanding menyertainya bagi tujuan merebut kerusi/jawatan. Dalam proses ini, selain melibatkan mencalunkan (mengangkat) diri sendiri, ia juga melibatkan pembayaran tetentu bagi membolehkan dia tercalun dan bertanding di dalam pemilihan jawatan atau kerusi yang dimaksudkan. Malah, dalam prosedur ini juga bakal mengakibatkan hilangnya wang bayaran (wang pertaruhan) apabila peserta (calun bertanding) tewas atau gagal memungut jumlah undian tertentu. Bukankah ini suatu bentuk pertaruhan/perjudian yang dilarang?

Jelaslah bahawa ia amat berbeza sekali dengan prinsip-prinsip Islam bahawa syari’at tidak sekali-kali membenarkan permainan wang pertaruhan bagi merebut jawatan tertentu, malah sebenarnya syari’at sendiri tidak membenarkan individu tertentu untuk mengangkat diri sendiri dinobatkan sebagai pemimpin/penguasa.

Begitulah syubhat-syubhat yang terlahir dari demokrasi yang mana kian merosakkan sebahagian besar umat Islam.

8 - Adakah Kuasa Mampu Mengubah segalanya?

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mula berdakwah secara terang-terangan, ramai manusia yang mulai memasuki Islam. Maka ketika itu, kaum Quraisy pun menjadi tidak senang lalu mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah untuk memujuknya. ‘Utbah bin Rabi’ah berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,

“Jika engkau mahu kedudukan, maka kami akan menjadikanmu sebagai tuan kami, sehingga kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpamu. Jika engkau mahu kerajaan, maka kamu akan menjadikanmu sebagai raja kami.” (Hadis Riwayat Muslim)

Walaupun begitu keadaan tawaran yang diberikan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau tetap menolaknya.

Seterusnya, berkenaan kisah Raja Najasyi (Ashama bin Bahr), Raja Habsyah yang memimpin kaum Nasrani di sana. Walaupun beliau telah memeluk Islam, dan berada di tampuk pemerintahan, namun dia tetap tidak berupaya untuk mengubah keadaan masyarakatnya dengan kuasa yang dimilikinya.

9 - Sistem Syura Sebagai Penganti Demokrasi

Islam adalah aqidah dan perundangan bagi menjadi petunjuk dan mengatur kehidupan manusia menjadi sempurna. Islam datang melalui wahyu melalui Nabi-Nya yang diutus bagi menunjuk ajar manusia corak kehidupan berTuhan dan agar kita sentiasa berada dalam lingkungan jalan yang selamat. Agama Islam telah sempurna malah menjelaskan segala macam persoalan yang diperlukan manusia termasuklah dalam persoalan politik yang meliputi perundangan/pentadbiran sesebuah masyarakat atau negara, ekonomi, sosial, perhubungan serta kemasyarakatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (al-Ma’idah, 5: 3)

Imam Ibnu Katsir menyebut berkenaan ayat ini (maksudnya),

“Ini adalah nikmat Allah yang terbesar yang diberikan kepada umat ini, di mana Allah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak perlu lagi kepada agama selainnya, dan tidak perlu kepada seorang Nabi pun selain Nabi mereka (Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam). Kerana itu, Allah menjadikan Nabi mereka sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada manusia dan jin. Tiada kehalalan kecuali apa yang dihalalkannya, tiada keharaman kecuali apa yang diharamkannya, dan tiada agama kecuali apa yang disyari’atkannya. Segala yang disampaikannya adalah kebenaran dan kejujuran.” (Rujuk: Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Cet. Pertama Oktober 2007 (Bogor), jilid 3, m/s. 26)

Dengan ini, demokrasi bukanlah suatu sistem yang bertunjangkan Islam malah bukan juga merupakan ideologi politik yang lengkap atau sempurna yang boleh dianggap suatu yang bersih lagi adil. Ia diasaskan oleh idea-idea falsafah dan pemikiran manusia yang memiliki banyak kelemahan. Malah, sistem demokrasi itu sendiri memiliki banyak versi dan corak perlaksanaannya agak berbeza-beza bagi setiap tempat atau negara. Ia juga sentiasa berevolusi dari masa ke semasa.

Berbeza dengan konsep Islam, ia adalah bertunjangkan agama yang tujuannya adalah kerana Allah. Konsep Islam adalah konsep mentauhidkan dan mengesakan Allah. Setiap asas perundangan dan peraturan kehidupan adalah diambil dari ketetapan yang telah ada di dalam agama dengan merujuk melalui Kitab-Nya atau Sunnah Rasul-Nya. Dengan menepati kehendak yang Maha Pencipta, maka barulah keadilan sejagat sebenarnya akan dapat dicapai. Kerana kita mengimani bahawa Dila yang Maha Mengatur dan maha mengetahui.

Di dalam Islam, soal pentadbiran, perundangan, dan kaedah memilih pemimpin adalah melalui suatu sistem yang dinamakan sebagai Majlis Syura. Ianya terbina di bawah pentadbiran Islam dan terdiri dari kalangan “Ahlul Hal wal Aqdi” iaitu para ulama dan ilmuan yang soleh, bijaksana, zuhud, adil lagi taat kepada Allah bersesuaian dengan kedudukan mereka sebagai pemimpin masyarakat Islam yang bertanggungjawab dalam memutuskan sesuatu permasalahan dalam pentadbiran sesebuah masyarakat atau negara. Keadaan perbincangan di dalam Syura ini berlaku dalam keadaan ilmiyah, sopan, berakhlak, tenang, dan berpandukan fakta-fakta agama yang betul serta maklumat yang tepat.

Kaedah Syura amat berbeza sekali dengan perbahasan di dalam sistem demokrasi yang mana sistem demokrasi berpandukan kepada parlimen yang bertunjangkan Britain (The Mother of Parliments) yang ia memiliki kuasa utama dalam pembentukan perlembagaan (sistem yang mentadbir negara). Parlimen bagi sesebuah negara demokrasi boleh dianggotai sama ada oleh parti yang berbeza ideologi, kewujudan kaum lelaki mahu pun wanita (percampuran/ikhtilat), oleh orang kafir, fasiq, berilmu, jahil, mahu pun dari mereka yang memiliki aliran pemikiran yang pelbagai. Setiap usul dan cadangan yang dikutip dari suara mejoriti rakyat dibawa oleh setiap anggota atau perwakilan (termasuklah para pelobi) ke dalam parlimen untuk diputuskan. Yang mana di sini setiap perkara diputuskan berdasarkan terma-terma perlembagaan dan akal. Dengan tersebut, setiap perbincangan dan perbahasan sering melahirkan suasana yang tegang, saling mengkritik, merendah-rendahkan, pelepasan perasaan, pertikaman lidah, pertengkaran dan seumpamanya sebagaimana yang sering berlaku di Korea, Taiwan, Eropah, dan beberapa negara lain. Ini sekaligus menunjukkan betapa tidak matangnya perbahasan seperti itu dan sistem yang mereka duduki.

Berbeza dengan Islam melalui sistem Syura, Ia bertunjangkan kepada dasar-dasar agama wahyu berpandukan al-Qur’an dan as-Sunnah. Ini kerana setiap Muslim beri’tiqad bahawa tiada suatu teori atau falsafah yang lengkap kecuali Kitab Allah (al-Qur’an) yang merupakan wahyu dari Allah sebagaimana dalil yang dibawakan tadi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (al-Ma’idah, 5: 3) dan juga firman-Nya yang bermaksud, “Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun dalam al-Kitab (al-Qur’an)” (al-An’am, 6: 38). Oleh kerana itulah, Islam menolak apa jua teori dan pemikiran yang bercanggah dengan prinsip-prinsip Islam yang telah sempurna bagi manusia.

Di dalam perundangan Islam, pemimpin adalah dipilih melalui sistem Syura yang melibatkan ahlul hal wal aqdi yang terdiri daripada para ulama lagi ilmuan yang mengetahui selok-belok kepimpinan, yang soleh, bijaksana, zuhud, adil lagi taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Majlis Syura mungkin terdiri dari 2 orang anggota, tiga orang, empat orang, lima orang, atau enam orang. Ia juga sah dengan satu orang keanggotaan berdasarkan atsar (riwayat dari sahabat) tertentu. (Ikuti perbahasannya di dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh Imam al-Mawardi)

Mereka dari kalangan anggota majlis Syura (ahlul hal wal aqdi) perlulah mengetahui dan menyelidiki peribadi seseorang yang hendak dipilih sebagai pemimpin. Sama ada dia layak atau pun tidak. Sama ada dia memiliki ciri-ciri kepimpinan yang baik atau tidak. Kemudian mereka memilih siapa di antara orang-orang tersebut yang paling banyak kelebihannya, paling lengkap kriterianya, mampu berijtihad di dalam soal hukum tertentu di dalam pentadbiran, yang mampu mendapat sokongan (ketaatan) daripada rakyat, dan mereka tidak menolak dalam membai’atnya (mentaati dan mengangkatnya). Seseorang yang ingin dilantik untuk menjadi pemimpin tidak boleh dipaksa dan jika dia menolak untuk dijadikan sebagai pemimpin, maka jawatan kepimpinan haruslah diberikan kepada orang lain yang memiliki kelayakan. Ini kerana jawatan kepimpinan adalah aqad atas dasar kerelaan dan tidak boleh mempunyai unsur-unsur paksaan di dalamnya. (Rujuk: Imam al-mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Darul Falah (Jakarta), Cet. 3 (Mei 2007), m/s. 6)

Perlantikan pemimpin juga adalah berdasarkan kriteria semasa. Menurut Imam al-Mawardi di dalam persoalan ini katanya:

“Jika individu pertama lebih pandai dan individu kedua lebih berani, maka yang dipilih adalah siapa yang paling tepat pada zaman tersebut. Jika pada zaman tersebut yang diperlukan adalah keberanian kerana wujudnya pelbagai ancaman dan perlunya kepada pertahanan dan perjuangan, maka mereka yang lebih berani diperlukan. Jika yang diperlukan pada zaman tersebut adalah ilmu, di mana mungkin pada masa tersebut bermunculan ramainya ahli bid’ah dan banyaknya kejahilan maka individu yang berilmu adalah lebih diperlukan.” (Rujuk: Imam al-mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Terbitan Darul Falah (Jakarta), Cet. 3 (Mei 2007), m/s. 6)

Maka, melalui majlis Syura, pemilihan utama bagi suatu jawatan kepimpinan adalah berlegar di dalam pemesyuaratan dan perbincangan dalam kalangan barisan para ulama, mereka yang benar-benar berilmu dan arif lagi bijaksana dalam soal tersebut. Ia tidak diserahkan kepada orang awam atau kelompok sembarangan yang tidak berkelayakan yang mana terdiri dari pelbagai latar belakang yang sama ada diketahui atau sebaliknya. Maka, pemilihan dapat berlaku dengan aman, ilmiyah, dan pemilihan berlaku dengan tepat di atas dasar ketelitian serta pengetahuan yang menepati keperluan.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan bermesyuarat (syura) antara mereka; dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Surah asy-Syuraa, 42: 38)

Melalui aspek Syura juga, asas piawaian pada setiap permasalahan akan dirujuk kepada al-Qur’an dan bimbingan as-Sunnah. Begitu juga asas, kaedah, serta peraturan untuk suatu ketetapan hukum tertentu dan perundangan diteliti berdasarkan Kitabullah (al-Qur’an) dan as-Sunnah sebelum tindakan dilaksanakan. Setiap persoalan dinilai secara ilmiyah berdasarkan dua sumber tersebut yang merupakan perlembagaan tertinggi umat Islam. Persoalan-persoalan ini diserahkan (dikembalikan) hanya kepada mereka yang mengetahui (yang memiliki ilmu) lagi ahli dalam setiap bidangnya.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan sesat yang nyata.” (Surah al-Ahzaab, 33: 36)

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surah an-Nisaa’, 4: 59)

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (tentang isi al-Qur’an dan sunnah) jika kamu tidak mengetahui” (Surah an-Nahl, 16: 43)

Berbeza sekali dengan kaedah-kaedah yang dibentuk di dalam sistem demokrasi, semua perkara dan permasalahan rakyat dikembalikan kepada kebijaksanaan rakyat, kuasa di tangan rakyat (dan melalui wakil-wakilnya di parlimen), dan fokus perlembagaannya adalah juga dibentuk berdasarkan pemikiran manusia yang terbuka kepada pelbagai kelemahan sekaligus membelakangkan perlembagaan tertinggi iaitu al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya.

10 - Demokrasi Adalah Permainan Yahudi

Setelah kita memahami dasar-dasar dan asas pembinaan sistem demokrasi yang sebenarnya amat-amat bercanggah dengan kehendak Islam, maka seterusnya kita lihat ia dari suatu sisi pandang yang lain pula.

Sebenarnya sistem demokrasi merupakan hadiah palsu yang diberikan oleh para imperialis Barat kepada para juhala’ Islam. Mereka mengajak kepada kebebasan dan bertindak menurut kehendak serta keinginan rakyat. Sedangkan masyarakat sendiri ada pelbagai peringkat sama ada memahami politik (siyasah) dan sistem pentadbiran atau tidak, berilmu atau tidak, dan yang lebih penting bagaimana keadaan agamanya. Maka, akhirnya sistem pentadbiran sesebuah negara akan menjadi rosak diakibatkan ia dikuasai (dicorakkan) oleh golongan yang memiliki pelbagai pemikiran dan latar belakang yang tidak selayaknya. Sememangnya ideologi jahiliyah ini telah ditunggu-tunggu dan diharap-harapkan oleh golongan barat (dan yahudi) serta para pemimpin Islam yang berupa boneka dari pemilihan dan didikan penjajah tersebut yang telah bersedia dari awal-awal lagi sebelum mereka meninggalkan negara-negara Islam. Mereka sebenarnya bertujuan untuk meneruskan konsep penguasaan (penjajahan) dan niat jahat terhadap rakyat dan negara Islam setelah mereka terpaksa melepaskan atau meninggalkan negara-negara tersebut lantaran tuntutan dan perjuangan kemerdekaan yang tidak dapat mereka kawal sehinggakan kepada membahayakan diri dan kepentingan-kepentingan mereka.

Penerimaan demokrasi oleh masyarakat islam adalah sebagai satu simbol dan tanda kekalahan, kehancuran, serta kejatuhan Daulah Islamiyah (sistem perundangan Islam) yang nyata. Inilah sebuah hadiah palsu yang memalukan yang diberikan oleh penjajah (Winston Churchill) kepada negara Mesir setelah sekian lama negara Islam itu merayu untuk dimerdekakan. Suatu sindiran yang sinis dan terlalu memedihkan hati telah pun diucapkan oleh si biadab ini kepada negara Mesir dengan katanya, “Give them a toy to play with” (Berikan mereka satu permainan (demokrasi) supaya mereka bermain-main dengannya). (Rujuk: Muhammad Salleh Abbas, Piliharaya malaysia, DBP, Kementerian Pendidikan Malaysia, 1987, m/s. 3)

Maka, hanya orang-orang yang beriman dan mampu berfikir sahaja akan berupaya memahami keadaan dan penghinaan tersebut.

Hakikat keberkesanan dakyah dalam mempropagandakan dasar kebebasan melalui sistem demokrasi adalah suatu bentuk permainan yang diprogramkan dalam konspirasi Yahudi antarabangsa untuk memberi kebebasan kepada kaum Yahudi melakukan apa sahaja yang mereka inginkan. (Rujuk: Muhammad Qutb, Mazahib Fikriyah Mu’assirah, Dar as-Syuruq, jil. 1, 1984, m/s. 197) Kita perlu sedar dan mengetahui bahawa kekayaan dunia dan hasil khazanahnya telah dimonopoli serta dieksploitasi oleh golongan Yahudi. Kejayaan mereka ini adalah hasil dari penipuan, penindasan, dan penghisaban darah yang dilakukan oleh Yahudi secara zalim terhadap golongan selain masyarakat Yahudi yang mereka anggap sebagai haiwan. Oleh kerana itulah demokrasi berdasarkan prinsip-prinsipnya adalah suatu operasi yang hampir keseluruhannya diwujudkan untuk lebih memihak dan menguntungkan golongan orang-orang kaya, berharta, serta yang telah sedia berada di persada kuasa. Mereka membeli rakyat (mempengaruhi) dengan menguasai pemkiran-pemikiran mereka. Mereka menghamburkan wang kepada kelompok-kelompok tertentu pada masa-masanyanya bagi tujuan kelangsungan politik tertentu. Akhirnya siapa pun yang berkuasa, ia akan tetap sama. Kerana ekonomi dan negara telah dimonopoli oleh pihak-pihak tertentu. Namun, rakyat dan masyarakatlah yang kelak berpecah-belah kerana mereka merasakan pemerintahan tidak lagi sebaik yang diharapkan. Padahal sistem pemerintahan telah pun dikawal oleh pihak-pihak tertentu.

Di sinilah masyarakat mula bertindak menurut prinsip-prinsip yang lebih jauh penyimpangannya dari agama di mana mereka yang jahil juga turut tampil menjadi jaguh untuk memperbaiki keadaan yang bercelaru dengan perpecahan kesatuan rakyat dan pelanggaran sistem-sistem Islam yang semakin berleluasa. Perundangan yang lebih jauh menyimpang pula terus direka-cipta lantaran yang ia dipegang oleh golongan yang tidak mengerti (dari kalangan rakyat pelbagai latar belakang).

Sedangkan Allah Subahahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan kerana kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Surah al-jatsiyah, 45: 17-18)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah menjelaskan betapa bahawa orang-orang yahudi itu tidak akan redha dengan umat Islam dan akan sentiasa mencari-cari cara untuk menghancurkan kita semua (umat Islam).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Surah al-Baqarah, 2: 120)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Surah al-Ma’idah, 5: 82)

Dalam suatu riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian mengikutinya.”

Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah yang engkau maksudkan itu adalah Yahudi dan Nashrani?” beliau menjawab, “Siapa lagi (sekiranya bukan mereka)?” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

Jika kita melihat kepada sejarah, negara Islam yang manakah telah tertegak berpandukan kepada sistem demokrasi? Seterusnya jika benar ianya tertegak, bagaimanakah (serta apakah) polisi dan perlembagaan yang diguna pakai? Bagaimanakah kestabilan dan penerimaan masyarakat terhadapnya? Wujud atau tidak?

Demokrasi telah memberikan kegagalan kepada printisnya “Masyarakat Greek” di Kota Athens. Ia juga pernah menyebabkan kegagalan yang serius kepada beberapa negara walaupun mereka telah mencuba mengolah semula dan mahu menjadikannya suatu kenyataan. Hakikat ini dapat dibuktikan melalui sejarah Jepun, Itali, dan German. Mereka menerima kegagalan yang paling mengecewakan semasa melaksanakan sistem demokrasi ini di negara masing-masing. Akhirnya mereka mengambil alternatif perjuangan Mussolini dan Hitler melalui cara perjuangan Fasisme yang sederhana. Malangnya teori ini juga telah menghancurkan negara mereka sehingga German terpaksa menerima perjanjian Versailles yang memalukan rakyatnya. German juga terpaksa menghadapi pelbagai krisis sehingga pada tahun 1923, mata wang German tidak bernilai langsung, hinggakan satu dollar Amerika saja sudah bernilai 400000 Marks.

Kemenangan sesebuah parti atau seseorang individu melalui sistem demokrasi adalah bergantung kepada keupayaan dan kebijaksanaan para pejuangnya dalam memperdayakan rakyat. Ini dilakukan dengan pembinaan karisma, penampilan, dan kepetahan dalam berbicara (bersyarah/berucap). Seterusnya, dia perlu bijak menabur janji, mengolah isu, pemberian kebendaan yang jelas jauh dari asas-asas Islam yang murni.

Sekalipun sesebuah parti atau seseorang individu mampu menguasai tampuk pemerintahan (kepimpinan), adakah dia mampu mengubah minda masyarakatnya untuk dibawa ke medan agama? Atau sebaliknya, masyarakatnya yang berbilang telah memberikannya halangan dan masalah yang akhirnya menjadikannya serba salah untuk memuaskan setiap pihak masyarakat?

Sedangkan rakyat yang tidak memahami aqidah, tidak mengenal agama dan tidak memiliki kesedaran terhadap Islam, pastinya mereka tidak akan mahu untuk menerima cara Islam berserta perlaksanaan-perlaksanaannya. Lebih-lebih lagi apabila mereka telah terbiasa dengan sistem dan corak kehidupan yang liberal dan sekular. Maka, sekalipun mereka berada di atas tampuk kepimpinan, mereka akhirnya akan mendapat tentangan dari masyarakatnya akibat ketidaksetujuan dengan corak-corak baru yang cuba diterapkan. Maka masyarakat pada mas aitu akan terus cuba melakukan rombakan untuk menukar pemerintahan. Atau sebaliknya, akhirnya pihak pemerintah di negara demokrasi, sekali lagi terpaksa kembali kepada kehendak masyarakat yang akhirnya usaha menerapkan Islam melalui kuasa terbantut.

Begitulah putaran roda sebuah negara bersistem demorkasi. Penerapan Islam amat sukar sekali untuk berlangsung dengan jayanya. Ianya akan terus disekat atas kehendak rakyat dan akhirnya dipersenda-sendakan begitu saja.

11 - Jalan Keluar Dari Dilema Demokrasi Dan Perpecahan Umat

Memperbaiki Bermula dari Individu, Keluarga dan Masyarakat

Kestabilan sesebuah negara (pemerintahan dan pentadbirannya) itu sebenarnya terbentuk bermula dari diri setiap individu yang kemudiannya keluarganya, dan seterusnya keterlibatannya dalam kemasyarakatan, yang akhirnya menyumbang dalam pembinaan sesebuah negara tertentu tersebut.

Maka, perlulah untuk kita memahami bahawa pemimpin yang baik itu asalnya sebenarnya terlahir dari masyarakat kebanyakan iaitu dari kalangan sesama kita. Jika setiap individu tidak dibina dengan keimanan dan kesolehan yang betul, bagaimana kita mahu melahirkan pemimpin yang benar-benar baik dari kelompok masyarakat tersebut? Sedangkan usaha-usaha pembinaan yang positif tidak wujud dalam diri setiap individu yang membentuk sesebuah masyarakat tersebut?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (Surah an-Nuur, 24: 55)

Imam Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,

“Dari sini kita berupaya mengetahui dan menilai akan kebenaran janji Allah dan Rasul-Nya. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah supaya Dia selalu melimpahkan kepada kita keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta kekuatan untuk mensyukurinya bersesuaian dengan apa yang diredhai-Nya.

Ar-Rabi’ bin Anas telah meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Abul ‘Aliyah ketika menafsirkan firman Allah tersebut, ia berkata,

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tinggal di Makkah sekitar sepuluh tahun. Mereka berdakwah, menyerukan untuk beribadah kepada Allah dan menyembah Sang Khaliq Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dakwah yang dilaksanakan bersifat rahsia dan secara senyap-senyap. Mereka tidak berani bertindak lebih dari itu, kerana pada ketika itu, masih belum ada perintah untuk berperang. Perintah keluar berperang hanya muncul sekitar selepas mereka berhijrah ke Madinah.

Pada awalnya mereka merasa takut, sama ada di waktu pagi atau pun di petang hari. Mereka selalu sentiasa bersiap sedia dengan senjata. Mereka berada dalam keadaan seperti itu sehingga ke waktu yang dikehendaki oleh Allah... ...Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat tersebut (Surah an-Nuur, 24: 55).

Allah menjadikan Nabi-Nya mampu menguasai Jazirah arab, sehingga mereka pun merasa aman dan tidak lagi sentiasa dalam keadaan berjaga-jaga (ketakutan). Kemudian setelah Allah mewafatkan Nabi-Nya, mereka tetap merasa aman di bawah pemerintahan Abu Bakar, Umar dan Ustman...” (Rujuk: Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Terbitan Pustaka Ibnu katsir, jil. 6, m/s. 431-432)

Beliau juga menjelaskan,

Adalah para Sahabat, kerana mereka merupakan kelompok (komuniti) manusia yang paling mentaati perintah Allah setelah Nabi wafat, maka kejayaan yang mereka perolehi itu adalah bersesuaian dengan (keikhlasan) mereka di dalam menegakkan kalimatullah di penjuru bumi di bahagian timur mahu pun barat. Oleh kerana itu, Allah memperkuatkan (memperkukuhkan) kejayaan mereka sekuat-kuatnya sehingga mereka berupaya menakluki pelbagai negeri lainnya dan menjadi penguasa penduduk negeri yang mereka takluki. Namun ketika umat telah mula lalai dalam menjalani ketaatan kepada Allah, maka menjadi pudarlah kejayaan umat Islam. Namun dalam sebuah hadis yang termaktub di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih muslim, dan diriwayatkan melalui banyak jalur periwayatan, disebutkan bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan sentiasa ada segolongan dari umatku yang membela kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan yang menyelisihi mereka, sehinggalah datang hari kiamat”.” (Hadis Riwayat muslim, 1/137) (Rujuk: Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Terbitan Pustaka Ibnu katsir, jil. 6, m/s. 436-437)

Dari sini kita dapat melihat sebuah penjelasan yang menerangkan bahawa sebuah pemerintahan yang baik (pentadbiran yang berkesan) lahir dari sebuah masyarakat yang memiliki keimanan, kesolehan dan ketaatan yang baik kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Surah al-A’raaf, 7: 96)

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat bagi mereka, selain kaum Yunus. Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sehingga pada waktu yang tertentu.” (Surah Yunus, 10: 98)

“Dan Kami utus dia (Yunus) kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, kerana itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (Surah ash-Shaffat: 147-148)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya),

“Dan demikian kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menguasai sebahagian yang lain disebabkan apa-apa yang mereka (masyarakat) usahakan.” (Surah al-An’am, 6: 129)

Imam Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan (berkenaan ayat tersebut),

“Tiada orang yang zalim pun melainkan ia akan diuji dengan orang yang zalim. Dijadikan dari kalangan orang-orang yang zalim, mereka dikuasai oleh orang-orang-orang yang zalim lainnya. Sebahagian mereka dihancurkan dengan sebahagian lainnya, dan sebahagian mereka disiksa dengan sebahagian lainnya, sebagai balasan atas kezaliman mereka.” (Rujuk: Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Terbitan Pustaka Ibnu katsir, jil. 3, m/s. 430)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kefasikan/kederhakaan dalam negeri itu, maka sudah sewajarnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan) Kami, kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Surah al-Isra’, 17: 16)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahawa atas sebab kefasikan dan sikap ingkar terhadap ketaatan kepada Allah akan mengakibatkan suatu masyarakat atau negeri itu dibinasakan.

Begitu juga dengan firman Allah,

“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat kezaliman.” (Surah al-Kahfi, 18: 59)

Al-Walid ath-Tharthusi rahimahullah berkata, “Sehingga sekarang masih terdengar orang-orang berkata, “amalan-amalan kalian adalah pekerja-pekerja kalian”, sebagaimana kalian sekarang ini; maka seperti itulah kalian akan dipimpin. Di dalam al-Qur’an terdapat ayat yang semakna dengan perkara ini,

“Dan demikian kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menguasai sebahagian yang lain disebabkan apa-apa yang mereka (masyarakat) usahakan.” (Surah al-An’am, 6: 129)

Abdul Malik bin Marwan pernah berkata,

“Wahai rakyatku! Bersikap adillah kepada kami! (Bagaimana mungkin) kalian mahukan dari diri kami sebagaimana yang dilaksanakan oleh Abu Bakar dan Umar, sedangkan kalian tidak pun mengerjakan sebagaimana apa yang mereka amalkan?!” (Siraj al-Muluk, m/s. 100-101)

Maka, dengan ini dapatlah kita mengetahui dan memahami bahawa kesolehan dan keadilan yang terpancar (lahir) pada diri pemerintah berserta cemerlangnya sesebuah pentadbiran itu sebenarnya bergantung kepada kesolehan dan keadilan dalam diri-diri masyarakatnya. Maka, atas sebab itu, kita tidak memiliki jalan lain melainkan kita masing-masing mengambil inisiatif untuk bermula melakukan perubahan ke dalam diri sendiri dan seterusnya ke dalam masyarakat di sekeliling kita. Maka, bermuhasabahlah dan berusahalah menambah ilmu, pengetahuan dan maklumat berkaitan agama bagi tujuan membersihkan diri (dan masyarakat) dari pelbagai jenis kecelaruan dan kekeliruan (kejahilan). Hanya dengannya kita mampu memperbaiki diri-diri kita, keluarga kita dan seterusnya menerapkannya ke dalam segenap ruang lingkup kehidupan kita dan mengaktifkannya bersama-sama dengan masyarakat sekeliling.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak menderhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah at-Tahrim, 66: 6)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Surah al-‘Ashr, 103: 1-3)

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Surah ar-Ra’d, 13: 11)

Maka, sebagai jalan penyelesaiannya di sini adalah kita masing-masing perlu berusaha memperbaiki diri dengan menerapkan agama berpandukan dasar-dasar yang jelas tsabit berpandukan petunjuk dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan tafsiran-tafsirannya yang jelas (di atas prinsip para salaf). Proses tasfiyah (pemurnian) dalam beragama (beraqidah) perlu berlaku dan pentarbiyahan (didikan) pula perlu berlangsung dengan ilmu yang betul.

Sentiasa Mendoakan Kebaikan Untuk Pemimpin

Menurut Imam al-Barbahari rahimahullah:

Jika kamu melihat orang yang berdoa keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahawa ia termasuk salah seorang pengikut hawa nafsu, namun bila kamu melihat orang yang berdoa untuk kebaikan seseorang pemimpin, ketahuilah bahawa ia tergolong sebagai seorang ahli sunnah, insyaAllah.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika aku mempunyai doa yang baik yang makbul, maka semuanya akan aku persembahkan (pohonkan) untuk pemerintah.” Ia ditanya, “Wahai Abu Ali, jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata, “Bila doa itu hanya aku tujukan untuk diriku, tidak lebih hanya bermanfaat untuk diriku, namun bila aku pohonkan untuk pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara merasakan manfaat dan kebaikan.” (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah” (8/91) dari jalan Mardawaih as-Shabigh dan sanad Abu Nu’aim adalah sahih)

Kita diperintahkan untuk mendoakan mereka dengan kebaikan bukan keburukan, meskipun ia seorang pemimpin yang zalim lagi jahat kerana kezalian dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara bila mereka (pemimpin) menjadi baik maka mereka dan seluruh kaum muslimin akan merasakannya. (Imam al-Barbahari, Syarhus Sunnah, Tahqiq Syaikh Khalid bin Qasim al-Roddadiy, Edisi Terjemahan Terbitan Dar El-Hijrah, Cet. Pertama, 1423H/2002M, m/s. 83-84)

Terlantiknya Pemerintah

Menurut Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah, di dalam kitabnya, Ushulus Sunnah:

Prinsip ahlus sunnah (di dalam prinsip ke-28) - Mendengar dan taat kepada para imam (penguasa pemerintahan), khalifah, amirul mukminin, yang baik mahupun sebaliknya. Begitu juga (mendengar dan taat kepada) orang yang memegang tampuk pemerintahan (kekhalifahan yang telah disepakati dan diredhai oleh umat manusia). Demikian pula (mendengar dan taat kepada) orang yang dapat mengalahkan manusia dengan pedang hingga menjadi khalifah, penguasa, atau amirul mukminin.

Kekuasaan itu boleh terjadi melalui tiga kemungkinan:

Pertama: Dengan ketetapan dan wasiat dari imam (penguasa) terdahulu. Demikian ini sebagaimana terjadi pada Abu Bakar ketika mewasiatkan supaya Umar menjadi khalifah.

Kedua: Dengan pemilihan yang dilakukan oleh ahlul Halli wal aqdi. Mereka memilih khalifah dan imam, sebagaimana yang terjadi pada pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Para sahabat Nabi s.a.w.bersepakat membai’at Ali sebagai khalifah. Begitu juga bersepakatnya para sahabat membai’at Mu’awiyah selepas Ali.

Ketiga: Dengan kekuatan dan pemaksaan (kekerasan – tidak melalui jalan yang aman - penterjemah). Iaitu bila mana seseorang mengalahkan orang yang banyak atau kumpulan tentera yang lain, sehingga dengan kekerasan dan kekuatannya, ia menjadi penguasa. Pada cara yang ketiga ini, sesorang menang dan berkuasa dengan cara kekerasaan. Walaupun banyak syarat tidak dipenuhi, namun di dalamnya mengandungi hikmah, iaitu apabila seseorang menang dengan kekerasannya, menunjukkan bahawa ia mempunyai kekuatan. Jika ia diperangi lagi, tentu ia akan menimbulkan konflik dan fitnah yang berterusan. Bahkan mampu menimbulkan suasana saling berbunuhan dan perperangan yang lebih besar di kalangan umat muslimin. Dalam keadaan yang seperti ini, maka, maslahah dan keutamaannya adalah, agar pemimpin yang memperoleh kekuasaan dengan cara ketiga ini tetap harus didengari (ditaati). Inilah pegangan para ulama. Sebahagian ulama yang lain menyatakan, ia lebih kuat untuk berjihad, kerana jika ia memiliki tentera yang dapat menguasai kaum muslimin di suatu negeri dan memiliki kekuatan, bererti membuktikan bahawa ia merupakan orang terkuat untuk melakukan jihad dan perang. Yang mana, dengan kekuatannya itulah dia menjadi pemimpin.

al-Hafizd Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

Para fuqaha bersepakat atas wajibnya taat kepada imam yang mutaghalib (berkuasa melalui peperangan mahupun kekerasan). (Lihat: Fathul Bari (13/7), Maktabah Riyadh Haditsah).

Kisah Nabi Musa & Harun ‘Alahimus Salam Berhadapan Fir’aun Yang Zalim

Jika kita melihat kepada kisah mereka, kita akan mendapati bahawa tiada pun perintah dari Allah untuk menjatuhkan Tampuk kepimpinan Fir’aun lalu menukar dengan pemerintah yang lain. Walaupun seperti yang kita sedia maklum bahawa betapa zalim dan jahatnya Fir’aun pada zaman itu. Namun, apa yang mereka lakukan adalah bertepatan dengan apa yang diwahyukan kepada mereka iaitu mendakwahkan tauhid, membawakan aqidah yang benar dan dengan cara yang lemah lembut berserta bukti yang jelas (hujjah).

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”. Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk”.” (Surah Thaha, 20: 48)

Prinsip ini nyata jelas sekali berbeza dengan apa yang terkandung di dalam aplikasi sistem demokrasi, yang mana jika kita tidak suka dengan sesuatu pemerintah itu, maka hala tuju dan mind set kita akan difokuskan kepada menukar pemerintah dan berusaha menaikkan pemerintah yang kita sukai.

Penutup

Maka, kini telah jelaslah bahawa sebenarnya sistem demokrasi yang diamalkan di kebanyakan negara-negara Islam sebenarnya banyak menjurus kepada pelbagai perlanggaran terhadap hukum-hukum Islam yang murni. Ia juga mengajak masyarakat meninggalkan agama sedikit demi sedikit. Sekaligus ia menjadi agen yang bertindak mengikis nilai-nilai aqidah dan akhlak-akhlak Islam dari dalam diri setiap individu masyarakat. Dengan itu, semoga kita mampu memikirkannya kembali dan mula untuk melakukan pembaikan menurut kaedahnya. Sebaik-baik petunjuk dan suri tauladan, adalah apa yang dibawkaan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam.

(bersambung ke part 2..)

***

( dikutip dari http://bahaya-syirik.blogspot.com/ )

Geoglobe

Geocounter

Youtube video

Loading...

About Me

My photo
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما العلم بالتعلم ( حديث حسن، انظر : صحيح الجميع ، للأ لبانى ) " Sesungguhnya 'ilmu itu,-hanya bisa diperoleh- dengan BELAJAR "